BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Perawat memiliki tanggung jawab untuk belajar dan
mengajar. Mereka harus terus belajar sehingga mereka dapat mempertahankan
pengetahuan dan keterampilan mereka di tengah-tengah banyaknya perubahan dalam
perawatan kesehatan. Mereka pengajar klien dan keluarganya, profesional
perawatan kesehatan lain, dan asisten keperawatan yang diberikan delegasi
perawatan, dan mereka berbagi keahlian mereka dengan perawat lain dan
professional kesehatan. Berebrapa perawat mengajarkan profesi mereka kepada
yang kelas dan dapat terjadi dalam semua tatanan praktik.
Belajar adalah suatu proses yang kompleks, dan
terdapat banyak teori mengenai bagaimana belajar itu terjadi. Teori belajar ini
secara umum berlandaskan pada asumsi mengenai orang, sifat dari pengetahuan,
dan bagaimana oarng belajar. Pendekatan eklektik menganggap bahwa tidak ada
satu teori pun yang lebih benar dari teori lain. Saat ini semakin banyak
informasi yang tersedia mengenai gaya belajar orang.
Terdapat juga keyakinan mengenai bagaimana
pengajaran menjadi paling efektif. Hal ini umumnya disebut sebagai prinsip
pengajaran. Baik belajar maupun mengajar adalah suatu proses yang aktif dan
ineraktif. Baru-baru ini, terjadi peningkatan focus pada pengajaran berbasis
hasil akhir dan pengajaran basis bukti.
B.
Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian peranan ?
2. Bagaimanakah peran perawat sebagai
pelajar ?
3. Bagaimanakah proses belajar itu ?
4. Bagaimanakh peran perawat sebagai
pengajar ?
5. Bagaimanakah seni mengajar itu ?
6. Apakah peran Clinical
Instructor itu ?
C.
Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian peranan.
2. Untuk mengetahui bagaimana peran
perawat sebagai pelajar.
3. Untuk mengetahui bagamana proses
belajar.
4. Untuk mengetahui bagaimana peran
perawat sebagai pengajar.
5. Untuk mengetahui bagamaimana seni
mengajar.
6. Untuk mengetahui peran Clinical
Instructor.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Peranan adalah pola tingkah laku
yang diharapkan dari seseorang yang menduduki suatu jabatan atau pola tingkah
laku yang diharapkan pantas dari seseorang. Oleh karena itu seharusnya seorang
CI diberi wewenang dan tanggungjawab yang jelas sesuai dengan perannya dalam
merancang, mengelola, dan mengevaluasi pemebelajaran klinik terhadap peserta didik ditatanan
klinik. Namun seringkali kita melihat dan merasakan keadaan yang berbeda dimana
seorang CI sulit sekali menunjukkan kemampuannya dalam membimbing peserta didik
karena berbagai sebab antara lain adalah kurangnya kepercayaan diri dan
ketidakjelasan peranan yang di berikan institusi pendidikan pada para CI tersebut.
Hal inilah yang mendorong pentingnya pembahasan peran CI ini dalam pelatihan
Clinical Instructor saat ini, semoga memberi kejelasan akan peran fungsi dan
tanggungjawabnya dalam membimbing para peresta didik di tatanan klinik.
B.
Perawat Sebagai Pelajar
Terdapat beberapa cara agar perawat dapat belajar,
meliputi pendidikan akademik formal lanjutan, program pengembangan sumber daya
manusia (human resource development, HRD) berbasis institusi, pendidikan
lanjutan yang dianjurkan atau diwajibkan secara legislasi, atau pendidikan
pilihan individu secara episodik.
Pendidikan akademik formal lanjutan termasuk studi
pascasarjana pada tingkat master atau doctoral. Studi tingkat sarjana dalam
bidang keperawatan atau disiplin lain memperkuat praktik keperawatan. Contoh;
perawat bagian administrasi dapat memilih untuk mengejar gelar master dalam
bidang administrasi keperawatan, administrasi perawatan kesehatan, dan
administrasi bisnis.
Swansburg (1995, hlm.2) mendefinisikan pengembangan
sumber daya manusia sebagai “proses yang digunakan manajemen perusahaan untuk
menstimulasi motivasi pekerja guna melakukan tugas secara produktif. HRD
memberikan stimulus yang memotivasi personel keperawatan ke klien menurut
standar kualitas dan kuantitas yang mempertahankan nama baik keberadaan
pearawatn kesehatan dan terjangkau secara financial kepuasan, perawat dengan
prestasi profesionalnya dan kualitas kehidupan kerjanya, dan penanganan klien
secara baik”. Contoh; Pemilik institusi mungkin menawarkan program untuk mengorientasikan
anggota staf baru, menginformasikan perawat mengenai kebijakan institusi yang
baru, membiasakan perawat dengan perlengkapan yang baru, mempersiapkan perawat
untuk sertifikasi tingkat praktik lanjutan atau spesialisasi, atau
mengimplementasikan kerangka kerja konseptual ahli teori perawat sebagai
panduan praktik keperawatn dalam institusi.
Pendidikan lanjutan (Countinuining Education [CE])
mengacu pada pengalaman yang diformalkan yang dirancang untuk mengembangkan
pengetahuan atau keterampilan perawat. Program ini cenderung lebih khusus dan
lebih singkat dibandingkan dengan studi tingkat akdemik lanjutan yang formal
dan tanggung jawab setiap perawat praktisi. Pembaharuan dan perkembangan yang
konstan penting bagi perawat untuk tetap mengikuti perubahan ilmu dan teknologi
dan perubahan-perubahan dalam profesi keperawatan.
Aktivitas belajar episodik ditentukan oleh perawat
itu sendiri. Aktivitas belajar episodik adalah aktivitas yang berbeda dan
terpisah dari pendidikan formal atau terencana. Berlangganan dan membaca jurnal
profesional dan buletin berkala dan surat kabar komersial adalah contoh dari
aktivitas pendidikan episodik perawat.
C.
Proses Belajar
Orang-orang termasuk klien, memiliki kebutuhan
belajar yang bervariasi. Kebutuhan belajar ditandai dengan keinginan atau
kebutuhan untuk mengubah perilaku atau “gap antara informasi yang diketahui
individu dan informasi yang diperlukan untuk melaksanakan fungsi atau perawatan
untuk diri sendiri” (Gessner, 1989: 593). Pembelajaran adalah suatu perubahan
disposisi atau kapabilitas manusia yang berlangsung selama periode waktu
tertentu dan tidak dapat semata-mata ditentukan oleh pertumbuhan. Pembelajaran
ditentukan oleh perubahan perilaku.
Aspek penting dari pembelajaran adalah keinginan
individu untuk belajar, dan untuk bertindak berdasarkan apa yang dipelajari.
Keinginan ini digambarkan dengan baik saat seseorang menyadari dan menerima
kebutuhan untuk belajar, berkeinginan untuk menghabiskan energi yang diperlukan
untuk belajar, dan kemudian diikiuti oleh perilaku yang sesuai yang
mencerminkan pembelajaran tersebut. Sebagai contoh, seseorang yang didiagnosis
menderita diabetes berkeinginan untuk mempelajari diet khusus yang diperlukan
dan kemudian merencanakan dan mengikuti diet yang dipelajari tersebut.
1.
Teori Belajar
Terdapat sejumlah teori dan
sejumlah ahli Psikologi yang terkait dengan teori belajar. Lima konstruk
teoretis kontemporer adalah behaviorisme, kognitivisme, humanisme,
kontruktivisme, dan kecerdasan multiple.
2.
Behaviorisme (perilaku)
Dikembangkan oleh Edward Thorndike, meyakini bahwa
transfer dapat terjadi jika situasi baru sangat menyerupai situasi yang dahulu.
Pemahaman digunakan dalam konteks membangun koneksi. Lingkungan mempengaruhi
perilaku dan bagaimana seseorang mengontrol perilaku, dan lingkungan adalah
faktor penting yang menentukan tindakan manusia. Suatu tindakan disebut respon
ketika tindakan tersebut dapat ditelusuri sampai keefek dari stimulus.
3.
Teori Operant Conditioning Skinner
Mempostulatkan dua tipe Pengkondisian (respon
perilaku terhadap stimulus) yang menimbulkan respon atau perilaku. Tipe
pengkondisian yang pertama yaitu classical contioning. Pengkondisian klasik
adalah suatu prosedur saat respons yang terkondisi dibentuk oleh asosiasi dari
stimulus baru yang diketahui menyebabkan respons yang tak terkondisi. Respons
yang dihasilkan oleh respons yang terkondisi dengan stimulus baru (tidak
berhubungan).
Tipe pengkondisisan kedua yaitu operan conditioning
suatu proses yang frekuensi responsnya dapat dinaikkan atau diturunkan
bergantung pada kapan, bagaimana, dan sampai sejauh mana respons itu dikuatkan.
Skinner meyakini bahwa manusia, sama seperti binatang, akan selalu mengulangi
tindakan yang menyenangkan. Dia mempertimbangkan dampak dari tindakan, yang
disebutnya Penguatan (reinforcement), menjadi sangat penting. Dampak positif
mendukung pengulangan tindakan, dampak negative atau tidak adanya dampak dapat
menyebabkan tindakan dihentikan. Penghapusan (Extinction) adalah proses saat
perilaku terkondisi “hilang dari ingatan” karena penguatannya dihilangkan.
4.
Kognitivisme
Kognitivisme menggambarkan pembelajaran sebagai
kativitas kognitif yang kompleks. Ahli kognitivisme memandang pembelajaran
sebagai pengembangan pemahaman dan penghargaan yang membantu individu berfungsi
dalam konteks yang lebih luas. Pembelajaran dilandaskan pada perubahan persepsi
yang pembelajaran itu sendiri dipengaruhi oleh indera dan variable internal dan
eksternal. Pembelajaran adalah suatu proses mental, intelektual, atau berpikir.
Pelajar menyusun dan memproses informasi berdasarkan pada persepsinya terhadap
informasi tersebut. Persepsi pelajar dipengaruhi oleh karakteristik personal
dan pengalaman mereka. Pentingnya konteks sosial, emosional, dan fisik ketika
pembelajaran terjadi, seperti hubungan pengajar-pelajar dan lingkungan.
Kesiapan perkembangan dan kesiapan individu (dinyatakan sebagai motivasi)
adalah faktor-faktor penting lain yang dikaitkan dengan pendekatan kognitif.
5.
Humanisme
Berfokus pada area kognitif dan afektif (perasaan
dan sikap). Berfokus pada seseorang secar keseluruhan dan kemudian terkait
dengan filosofi asuhan yang holistic. Pembelajaran diyakini dimotivasi sendiri,
dimulai sendiri, dan dievaluasi sendiri. Tiap-tiap individu dipandang sebagai
komposisi unik dari faktor-faktor bio-psiko-sos-bud-spiritual. Otonomi dan
penentuan diri adalah hal yang penting, pelajar mengidentifikasi kebutuhan
belajar dan mengambil inisiatif untuk memenuhi kebutuhan ini. Pelajar adalah
mereka yang berpartisipasi aktif dan mengambil tanggung jawab untuk memenuhi
kebutuhan belajar diri sendiri.
6.
Kategirisasi
Persepsi, konseptualisasi, belajar, dan pengambilan
keputusan semua bergantung pada informasi yang di kategorisasikan. Manusia
menginterpretasikan informasi dalam hal persamaan dan perbedaan yang terdeteksi
dan mengatur informasi tersebut dalam kategori yang terkait. Contoh, terdapat
ratusan tulang dalam tubuh. Dengan mengkategorikannya ke dalam tipe tulang
utama (mis, tulang panjang, tulang pipih) atau tubuh (mis, tulang kepala,
tulang lengan, vertebra), akan lebih mudah untuk mempelajarinya.
7.
Kontruktivisme
Kontruktivisme adalah suatu sitilah yang realtif
baru. Menunjukkan kumpulan teori dengan karakteristik umum individu yang secara
aktif membentuk pengetahuan untuk memecahkan maslah yang realistis, sering kali
berkolaborasi dengan orang lain. Pembelajaran sebagai suatu perubahan dalam
makna yang dibangun dari pengalaman.
8.
Kecerdasan Multipel
Mengukur kecerdasan dengan menggunakan intelligence
quotient, atau IQ. Kecerdasan pada tingkat terlalu rendah akan meghambat
individu untuk berpartisipasi dalam situasi belajar yang penuh tuntutan secara
intelektual dan bahwa pada kecerdasan pada tingkat yang lebih tinggi mengindikasikan
kejeniusan.
9.
Penerapan Teori Belajar
Teori perilaku mencakup pengidentifikasian yang cermat
mengenai apa yang akan diajarkan dan pengidentifikasian segera serta
penghargaan untuk respons yang benar. Perawat yang menerapkan teori perilaku
akan melakukan hal-hal sebagai berikut :
·
Menyediakan
waktu praktik yang cukup dan menyegerakan serta mengulang pengujian dan
redmonstrasi.
·
Memberikan
kesempatan bagi pelajar untuk memecahkan masalah dengan trial dan error.
·
Memilih
strategi pengajaran yang menghindari distraksi informasi dan membangkitkan
respons yang diinginkan.
·
Memuji
pelajar jika melakukan perilaku yang benar dan memberikan umpan balik positif
sewaktu-waktu selama pengalaman belajar.
·
Menyediakan
model peran dari perilaku yang diinginkan.
Teori kognitif adalah pengenalannya akan tingkat perkembangan
pelajar, dan pengakuan adanya motivasi pelajar dan lingkungan. Para perawat
yang menerapkan akan melakukan hal :
·
Mengkaji
tingkat perkembangan seseorang dan kesiapannya untuk belajar serta menyesuaikan
strategi pengajaran ke tingkat perkembangan pelajar.
·
Menyediakan
lingkungan sosial, emosional, dan fisik yang kondusif untuk belajar.
·
Mendorong
hubungan pelajar-pelajar yang positif.
·
Memilih
strategi pengajaran multisensorik karena persepsi dipengaruhi oleh indera.
·
Memilih
tujuan dan strategi perilaku yang mencakup domain belajar kognitif, afektif,
dan psikomotor.
Humanisme adalah fokusnya pada perasaan dan sikap
pelajar, pentingnya individu dalam mengidentifikasi kebutuhan belajar, dalam
bertangggung jawab pada diri mereka, dan pada motivasi diri pelajar kearah
bergantung pada diri sendiri dan kemandirian. Perawat yang menerapkan akan
melakukan hal-hal berikut :
·
Mendorong
pelajar untuk menetapkan tujuan dan meningkatkan pembelajaran yang diarahkan
sendiri.
·
Mendorong
pembelajaran aktif dengan bertindak sebagai fasilitator, pembimbing, atau
narasumber untuk pelajar.
·
Memberikan
informasi baru yang relevan kepada pelajar tersebut mencari jawabannya.
10. Proses
Belajar Kognitif
Belajar melibatkan tiga proses kognitif (mental);
pemerolehan informasi, pemrosesan informasi, dan penggunaan informasi. Ketiga
proses ini dapat terjadi secara berurutan atau secara stimulant.
a. Pemerolehan Informasi
Dalam hal ini mencakup dua proses yaitu penerimaan
dan diskriminasi sensori. Penerimaan sensori kemungkinan oleh sistem
neurosensorik. Stimulus dalam lingkunagan memberi sinyal pada indera yang
sesuai, seperti penglihatan, pendengaran dan penciuman. Penerimaan sensori
secara umum terjadi terus-menerus, tetapi tidak selalu berupa proses yang
disadari.
Diskriminasi adalah kemampuan untuk menentukan
stimulus mana yang relevan dalam situasi tertentu. Dapat berupa benda, ide,
tindakan, atau fakta. Ada yang berupa interna (mis, di dalam tubuh) dan
eksternal.
b. Pemrosesan Informasi
Informasi diperoleh dalam tiga langkah: asosiasi,
generalisasi, dan pembentukan konsep. Asosiasi adalah penggabungan dua atau
lebih ide. Contoh, seseorang dapat mengasosiasikan objek misalnya sebuah jarum
dengan kata jarum dan atau dengan pengalaman nyeri. Generalisasi adalah
merasakan kesamaan antar sebagai stimulus. Contoh, kesamaan antara tiga
computer yang berbeda. Pembentukan konsep adalah pengorganisasian stimulus yang
memiliki kesamaan atribut. Contoh, perawat yang memahami konsep caring
mengharagai karakteristik yang terkait dengan caring. Perawat tersebut kemudian
dapat membantu orang lai untuk melaksanakan caring dalam tatanan perawatan
kesehatan.
c. Penggunaan Informasi
Aplikasi informasi dalam area kognitif, afektif,
dan psikomotor. Kemampuan untuk merumuskan dan mengaitkan konsep adalah hal
yang penting untuk berpikir kritis yang penting. Selain itu, pengaitan konsep
adalah hal penting untuk berpikir kreatif dan memcahkan masalah.
11. Faktor yang
Memfasilitasi Belajar
Belajar adalah suatu fenomena kompleks. Belajar
adalah proses interaktif atara pelajar, pendidik, lingkungan dan banyak unsur,
termasuk gaya belajar dan gaya mengajar. Berikut adalah yang dipertimbangkan
oleh perawat.
a. Motivasi
Keinginan untuk belajar. Motivasi memiliki pengaruh yang besar dalam seberapa
cepat dan seberapa banyak seseorang belajar. Biasanya terjadi saat seseorang
mengalami kebutuhan dan yakin kebutuhan tersebut akan dapat dipenuhi melalui
belajar, tidak cukup hanya diidentifikasi dan diungkapkan oleh perawat,
kebutuhan itu harus dialami oleh klien. Tugas perawat adalah membantu klien
secara personal menyelesaikan masalah dan mengidentifikasi kebutuhan. Contoh,
klien yang menderita penyakit jantung perlu mengetahui efek merokok sebelum
mereka menyadari kebutuhan untuk berhenti merokok. Atau remaja mungkin perlu
mengetahui akibat penyakit menular seksual yang tidak diobati sebelum mereka
melihat kebutuhan akan terapi.
b. Kesiapan
Perilaku yang mencerminkan motivasi pada waktu belajar. Mencerminkan keingonan
dan kemampuan klien untuk belajar. Peran perawat seringkali untuk mendorong
perkembangan dari kesiapan tersebut.
c. Keterlibatan Aktif
Proses membuat pelajaran lebih bermakna. Apabila
pelajar berpartisipasi aktif dalam perncanaan dan diskusi, pembelajaran akan
lebih cepat dan retensinya akan lebih baik. Pembelajarn pasif, sperti
mendengarkan dosen atau menonton film, tidak membantu pembelajarn optimal.
Kepercayaan diri dalam hal kemampuan belajar dapat mengurangi kecemasan dan
kegagalan dan dapat memotivasi belajar lebih banyak. Pelajar yang berhasil
telah meningkatkan kepercayaan dirinya da menerima kegagalan. Orang akan
belajar paling baik saat mereka yakin bahwa mereka diterima dan tidak akan
dinilai.
d. Umpan balik
e. Informasi yang mengaitkan
D.
Perawat Sebagai Pengajar
Perawat memiliki banyak peran mengajar, mereka
dapat mengajar individu pelajar, misalnya pasien yang membutuhkan petunjuk
mengenai terapi, atau mereka dapat mengajar secara berkelompok, misalnya calon
orang tua yang mengikuti kelas Lamaze. Adapun peran pengajaran primer perawat
adalah dalam mengajarkan pasien dan keluarga. Pengajar seperti ini mencakup
pendidikan kesehatan, bagaimana melakukan perawatan diri, petunjuk minum obat,
termasuk efek samping dan bagaimana melakukan terapi yang diresepkan. Sebagian
besar pendidikan yang diberikan kepada pasien secara langsung, namun anggota
keluarga atau pemberi perawatan juga dapat diajarkan mengenai perawatan pasien.
Hal ini terutama penting bagi pasien yang memiliki kesulitan dalam melakukan
perawatan diri. Perawat juga mengajar perawat lain dan profesional kesehatan
yang lainnya. Perawat yang berpengalaman sering bertindak sebagai pembimbing,
mengajar perawat baru mengenai kebijakan dan prosedur di unit keperawatan. Perawat
mengajar program pendidikan lanjutan untuk perawat lainnya. Program lanjutan
dapat mencakup kursus keperawatan spesialis seperti keperawatan intensif atau
keperawatan perioperatif, atau dapat berupa kelas meningkatkan pengetahuan
perawat terkait dengan penelitian baru pengobatan atau prosedur, misalnya
informasi mengenai perawatan orang yang menderita HIV/ AIDS. Perawat
mengajarkan mahasiswa keperawatan baik secara informal saat mahasiswa berada di
unit keperawatan atau secara formal di ruangan. Perawat juga mengajar anggota
tim perawatan kesehatan lain termasuk dokter. Perawat pendidik seringg
memberikan pengajaran di tempat kerja mengenai kebijakan baru, dan pelajarnya
dapat mencakup semua orang yang dipengaruhi oleh kebijakan tersebut, seperti
saat sistem pendokumentasian baru diemplementasikan.
Perawat mengajar bawahan atau staf tambahan.
Asisten perawatan pasien, relawan, tenaga bantuan untuk diet, personel pengurus
rumah tangga, dan sekretaris unit berpartisipasi dalam perawatan pasien pada
tinggkat yang bervariasi. Perawat dapat bertanggung jawab untuk mengajarkan
anggota staf ini mengenai tanggung jawab mereka .
Perawat juga berpartisipasi dalam aktivitas
pendidikan di komunitas. Perawat dapat mengajar siswa sekolah menengah atas
mengenai penyakit menular seksual, kehamilan pada remaja dan penyalahgunaan
alkohol serta obat-obatan. Mereka juga dapat mengajar lansia mengenai pengobtan
sendiri dan aktivitas perawatan diri lainnya. Mereka mengajar kelas di
komunitas mengenai hipertensi, faktor resiko penyakit jantung atau penyakit
lain. Untuk mencegah penyakit atau cidera, masyarakat harus diberi informasi,
perawat dihargai dan memiliki pengetahuan serta berada dalam posisi untuk
memberikan informasi seperti itu.
E.
Seni Mengajar
Pengajaran adalah suatu sistem
aktivitas yang secara singkat dirancang untuk menghasilkan pembelajaran khusus,
ini adalah suatu aktivitas bertujuan yang menghasilkan peningktan pembelajaran
bagi pelajar. Pengajar lebih dari hanya sekedar pemberian informasi, seni
mengajar terletak pada pemberian pengetahuuan, keterampilan,dan keinginan
kepada pelajar untuk mengubah beberapa aspek kehidupannya. Pengajaran yang
efektif membutuhkan penengetahuan mengenai materi aspek,pemahaman proses
belajar, penilaian dan intuisi.
Proses belajar/mengajar
melibatkan interaksi yang dinamis antara pengajar dan pelajar. Tiap-tiap
partisipan dalam proses tersebut mengkomunikasikan informasi, emoosi, persepsi
dan sikap ke orang lain. Hubungan antara pengajar dan pelajar dilandasi oleh
rasa percaya dan untuk mengajar dan pengajar menghargai kemampuan pelajar untuk
mencapai tujuan yang telah dikenali. Setelah perawat mulai mengajar klien atau
rekan kerja, penting agar proses mengajar terus berlanjut hingga peserta
mencapai tujuan belajar, mengajar, mengubah tujuan, atau memutuskan bahwa
tujuan tidak dapat dicapai.
Perawat memiliki tanggung jawab
untuk menjaga agar pengetahuan klinis mereka tetap mutakhir. Amerika Nurse
Assosiation (ANA) mencantumkan empat standar praktik keperawatan klinis yang
berkaitan secara langsung dengan belajar dan mengajar.
1. Pedoman Belajar dan Mengajar
Pedoman berikut mengenai belajar/mengajar efektif
mungkin dapat membantu perawat, di antaranya sebagai berikut :
·
Aktivitas
pembelajaran harus membantu pelajar mencapai tujuan pembelajaran individu. Tujuan
ini harus ditentukan bersama klien (pelajar) dan perawat (pengajar).
·
Hubungan
antara pelajar dan pengajar itu penting, hubungan yang saling menerima dan
konstruktif akan sangat membantu pembelajaran.
·
Perawat-pendidik
harus mampu berkomunikasi dengan jelas dan singkat, kata-kata yang digunkan
perawat harus memiliki makna yang sama bagi pelajar dan pengajar.
·
Pengetahuan
pelajar dan faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran mereka harus
ditetapkan sebelum merencanakan pengajaran.
·
Saat
seseorang terlibat dalam perencanaan,pembelajaran sering kali meningkat.
·
Pengajaran
yang sering melibatkan sejumlah indra pelajar sering kali meningkatkan
pembelajaran.
·
Perubahan
perilaku yang diperkirakan yang menunjukkan bahwa pembelajaran telah dilakukan
harus selalu terjadi dalam konteks gaya hidup dan sumber klien.
2. Karakteristik Pengajaran Yang Efektif
Adapun Karakteristik pengajaran yang efektif yaitu
meliputi:
·
Mempertahankan
minat pelajar.
·
Melibatkan
pelajar dalam proses belajar atau membuat kemitraan antara pelajar dan
pengajar.
·
Membantu
perkembangan konsep diri yang positif pada pelajar yaitu pelajar menyakini
bahwa mungkin dan berpeluang dilakukan.
·
Menyusun
tujuan yang realistis.
·
Diarahkan
untuk membantu pelajar mencapai tujuan belajar.
·
Mendukung
pelajar dengan penguatan yang positif.
·
Akurat
dan terkini.
·
Sesuai
dengan usia, kondisi, dan kemampuan pelajar.
·
Optimis, positif,
dan tidak mengancam.
·
Menggunakan
metode pengajaran untuk mengakomodasi gaya belajar yang bervariasi.
·
Mengumpulkan
informasi dari informasi yang dapat dipercaya.
·
Hemat
biaya (biaya dari waktu yang digunakan perawat untuk mengajar lebih sedikit
dari biaya mengatasi masalah yang sedang terjadi saat klien mengikuti terapi
yang direkomendasikan, gagal meminum obat dengan benar, atau tidak menyesuaikan
gaya hidup untuk mengubah kebutuhan kesehatan).
3. Implementasi Rencana Pengajaran
Perawat
perlu fleksibel dalam mengimplimentasikan setiap rencana pengajaran, karena
rencana tersebut mungkin membutuhkan revisi. Pelajar dapat lelah lebih awal
dari yang diperkirakan atau yang dihadapkan dengan terlalu banyak informasi
dalam waktu yang terlalu cepat. Pada kasus ini, perawat mengubah rencana
pengajaran dan mendiskusikan informasi yang diinginkan, memberikan informasi
tertulis, dan menunda pengajaran keterampilan psikomotorik hingga hari
berikutnya. Penting juga bagi perawat untuk menggunakan teknik pengajaran yang
meningkatkan pembelajaran dan mengurangi atau menyingkirkan penghambatan
seperti nyeri atau keletihan.
4. Pedoman Pengajaran
Saat mengimlementasikan rencana pengajaran, perawat
akan merasakan bahwa pedoman berikut ini membantu :
·
Waktu
yang optimal untuk tiap sesi sangat bergantung pada pelajar.
·
Kecepatan
dari tiap sesi pengajaran juga memengaruhi pembelajaran, para perawat harus
sensitif terhadap setiap tanda yang menunjukkan bahwa kecepatan pengajaran terlalu
cepat atau terlalu lambat.
·
Lingkungan
dapat mengganggu atau membantu pembelajaran.
·
Alat
bantu pengajaran dapat membantu pembelajaran dan membantu memfokuskan perhatian
pelajar.
·
Pembelajaran
akan lebih efektif saat pelajar menemukan materi untuk mereka sendiri.
·
Pengulangan
– sebagai contoh,merangkum isi, mengungkapkan kembali (menggunakan kata-kata
yang berbeda), dan mendekati materi dari sudut pandang yang berbeda untuk memperkuat
pembelajaran.
·
Akan
sangat membantu jika memakai ”organizer” untuk memperkenalkan materi yang akan
di ajarkan. Penggunaan kosakata orang awam akan meningkatkan komunikasi.
·
Sediakan
selebaran yang berisi poin-poin penting dari petunjuk anda.
5. Evaluasi Pembelajaran Dan Pengajaran
a. Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi adalah proses berkelanjutan dan proses
akhir saat pelajar, perawat, dan sering kali orang pendukung menentukan apa
yang telah dipelajari. Pembelajaran diukur menggunakan tujuan pembelajaran pilihan
yang telah ditententukan sebelumnya saat fase perencanaan proses pengajaran. Oleh
karena itu, tujuan tidak hanya berfungsi mengarahkan rencana pengajaran, tetapi
juga menyediakan kriteria hasil untuk evaluasi.
b. Evaluasi Pengajaran
Penting bagi perawat untuk mengevaluasi pengajaran
mereka sendiri. Evaluasi sebaiknya mencakup pertimbangan semua faktor-waktu, strategi
pengajaran, jumlah informasi, apakah pengajaran bermanfaat, dan seterusnya. Perawat
dapat menemukan, misalnya bahwa pelajar terbebani dengan informasi yang terlalu
banyak, merasa bosan, atau termotivasi untuk belajar lebih banyak
Baik pelajar maupun perawat sebaiknya mengevaluasi
pengalamn belajar. Pelajar dapat mengatakan pada perawat apa yang membantu, menarik,
dan seterusnya. Kuesioner umpan balik dan videotape dari sesi pembelajaran juga
dapat membantu.
Perawat sebaiknya tidak merasa tidak efektif
sebagai pengajar apabila pengajar lupa beberapa hal yang di ajarkan. Lupa itu
hal yang normal dan harus diantisipasi. Meminta pelajar untuk menuliskan
informasi, mengulangnya selama pelajaran, memberikan selebaran informasi dan
membuat pelajar menjadi aktif dalam proses belajar semuanya meningkatkan
retensi.
c. Strategi Pengajaran Khusus
Terdapat sejumlah strategi pengajaran khusus yang
dapat digunakan perawat yaitu: kontrak, pengajaran kelompok, intruksi dengan
bantuan komputer, presentasi multimedia, penemuan/pemecahan masalah, dan
modifikasi perilaku. Strategi yang dipilih perawat harus sesuai untuk pelajar
dan tujuan pembelajaran.
1) Kontrak
Kontrak melibatkan pembuatan kontrak dengan pelajar yang menyebutkan tujuan
tertentu dan kapan tujuan-tujuan itu akan tercapai. Kontrak, ditulis di atas
kertas dan ditanda tangani oleh pelajar dan perawat, menyebutkan tidak hanya
tujuan pembelajaran, tetapi juga tanggung jawab pelajar dan perawat serta
rencana pengajaran. Kesepakatan tersebut memungkinkan kebebasan, saling menghargai,
dan tanggung jawab bersama.
2) Pengajaran Kelompok (group teaching)
Intruksi kelompok bersifat ekonomis dan memberikan kesepakatan
bagi anggotanya untuk berbagi dan berlajar dari orang lain. Kelompok kecil
memungkinkan diskusi yang dapat diikuti oleh siapapun. Kelompok besar sering
membutuhkan teknik kuliah ceramah atau penggunaan film, video, slide, atau
bermain peran oleh pengajar.
3) Presentasi Multimedia
Presentasi multimedia menggabungkan audio, film, video,
dan komputer untuk menstimulus banyak indra. Hal ini meningkatkan pembelajaran,
dan memberikan pembelajaran yang intruksi yang konsisten. Pelajar dapat
menghentikan intruksi dan memutar ulang sesuai dengan kebutuhan. Perawat
pendidik dapat menggunakan piranti resentasi untuk menciptakan pelajaran yang
berkesan profesional bagi klien. Menyimpan pelajaran dalam CD-ROM membuatnya
dapat dipindahkan dari satu komputer ke komputer lain.
4) Penemuan/Pemecahan masalah
Dalam menggunakan teknik penemuan/pemecahan
masalah, perawat menyajikan beberapa informasi awal dan kemudian menanyakan
pada pelajar sebuah pertanyaan atau menyajikan sebuah situasi yang terkait
dengan informasi tersebut. Pelajar menerapkan informasi baru pada situasi
tersebut dan memutuskan apa yang akan dilakukan. Pelajar dapat bekerja sendiri
atau dalam kelompok.
5) Modifikasi Perilaku
Modifikasi prilaku merupakan perkembangan dari
teori belajar perilaku. Asumsi dasarnya adalah (1) perilaku manusia dipelajari
dan dapat diperkuat, diperlemah, dibatasi, atau digantikan secara selektif dan
(2) perilaku seseorang berada dibawah kendali yang disadari. Menurut sitem ini,
prilaku yang di inginkan dihormati dan prilaku yang tidak di inginkan di
abaikan. Respons pelajar adalah kunci menuju perubahan prilaku. Sebagai contoh,
pelajar yang mencoba berhenti merokok tidak dikritik saat mereka merokok, tetapi
mereka diberi pujian saat mereka pergi tanpa alkohol selama periode waktu
tertentu. Bagi beberapa orang kontrak belajar digabungkan dengan modifikasi
perilaku dan mencakup gambaran terkait berikut :
·
Penguatan
positif (misal : pujian)
·
Pelajar
berpartisipasi dalam penyusunan rencana pengajaran
·
Prilaku
yang tidak diinginkan diabaikan,tidak dikritis
·
Harapan
pelajar dan perawat adalah bahwa tugas akan dikuasai (misal: perubahan prilaku)
F.
Peran Clinical Instructor
Peran
adalah serangkaian perilaku yang diharapkan dari seseorang dalam kaitannya dengan statusnya
dalam masyarakat. Secara umum Peran dan fungsi Pembimbing klinik:
1. Sebagai
guru/pendidik
2. Sebagai
Perawat Profesional
3. Sebagai
Role Model
Sebagian besar
pengajar klinik akan setuju bahwa mereka memainkan banyak peran selama fase
pengajaran klinik di lab, briefing (pengarahan singkat), tanya jawab di seting
klinik/ komunitas. Mereka
juga akan setuju bahwa mereka sering mengambil peran ganda dalam suatu tahap
pengajaran klinik sendiri/ tunggal. Peran
pengajaran dapat mengembangkan termasuk, sebagai contoh seperti peran sebagai
konselor, pemecah masalah, manajer, penilai, advokat, pemandu dan fasilitator.
Infante (1975) pada edisi pertamanya peran pengajar klinik berhubungan dengan
aktivitas mahasiswa di seting klinik yang pada tahap ini: perhatian di
lab klinik tidak seharusnya pada bagaimana merawat tapi bagaimana mengapilkasikan
ilmu untuk merawat klien. Caring
bukan sama dengan belajar.
Kesimpulan
Infante menyebabkan bahwa peran pengajar seharusnya dinyatakan secara jelas
untuk merefleksikan penggunaan lab klinik, ketika
mahasiswa membutuhkan melihat dan mengatasi situasi kehidupan nyata dan
mempelajari mengaplikasikan ilmu ke dalam praktek sesuai permintaan memberikan
asuhan.
Pada edisi
teksnya tahun 1985, Infante dengan tegas tentang apakah mahasiswa sebagai
pelajar yang melakukan di seting klinik ketika peran pengajar sebagai salah
satu pengatur yang relevan dengan kegiatan mahasiswa.
Pengajar tidak
mengajar di lab klinik. Pengajar
telah melakukannya sebelum penggunaan labortorium klinik yaitu di kelas dan lab
kampus. Kegiatan
yang relevan diatur oleh pengajar untuk mahasiswa yang mengalami kebiasaan
mahasiswa. Lab
klinik adalah puncak kegiatan yang membuka kesempatan mahasiswa untuk
mempraktekan kemampuan intelektual dan keterampilan yang telah didapatkan –
tidak mendapatkan prinsip-prinsip teori ketinggalan kemampuan.
Peran pengajar
klinik sebagai pemandu, fasilitator dan pendukung selama sesi pembelajaran
klinik adalah model yang diusulkan buku ini. Kemampuan yang dibutuhkan pada peran adalah pengembangan
yang akan datang pada bab yang lalu dan tergantung pada kesuksesan implementasi
lab kampus dan sesi pra klinik atau pengarahan singkat, masing-masing
membutuhkan kemampuan tambahan dan berbeda. Tanya jawab atau sesi post konferens melengkapi siklus
pembelajaran klinik yang juga tergantung pada kemampuan mengajar klinik yang
spesifik.
Stevans
(1979) memfokuskan mengajar klinik dalam sebuah kerangka ’pendidikan untuk
kegiatan praktek. Peran
pengajra
klinik adalah merancang tugas
belajar dalam kompleksitas seting klinik. Jika mahasiswa
belajar untuk berpikir kemudian pengajar klinik membutuhkan untuk menentukan
apa ’pola pemikiran’ dibutuhkan
oleh registered nurse. Startegi
belajar yang memungkinkan mahasiswa mempraktekan pola pemikiran sebagai pelajar
akan menyediakan persiapan untuk praktek profesional sebagai lulusan. Ketika
berbagai seting klinik dipertimbangkan, perancangan strategi belajar
untuk merefleksikan pola pemikiran yang spesifik untuk praktek yang membutuhkan
pertimbangan pengalaman pada bagian dari pengajar klinik. Stevans (1979) mengingatkan kita sebagai
pengajar klinik, mengajar suatu peran fungsional (jelas dalam konteks mengajar)
termasuk pengajar seharusnya
’menjadi mengetahui dengan baik’. Untuk
penekunan lebih lanjut, Stevans menjelaskan pada peran pendidikan, tidak menambahkan dana pengetahuan mahasiswa tapi juga
memengaruhi dirinya. Peran
yang satu mengisi hidupnya menjadi bagian dari dirinya. Kemudian
pendidik pada area fungsionil hanya menginformasikan pada mahasiswa tapi tidak
membentuk mereka dan itu adalah tanggung jawab yang besar.
Ada beberapa
peran lain untuk pengajar klinik yang mungkin lebih relevan pada seting khusus
dari pada seting umum ketika kebanyakan mahasiswa yang belum lulus diajar.
Benner (1989) menggambarkan suatu peran untuk pengajar klinik ’tampak mempunyai
pengetahuan yang lebih pada perawatan intensif ’. Pada
tulisan terakhirnya, Benner menyatakan ’jika kita tidak melakukan pekerjaan mengajar yang baik
dari sisi manusia dan dari segi praktek asuhan, lalu mahasiswa kita tidak akan
berada pada posisi yang baik untuk diselamatkan dan pelajar dan praktisi klinik manusia. Kita bertaruh
tidak menahan keahlian dan pengertian praktek asuhan kita.
Komponen kemampuan peran
instruktor telah didefenisikan dalam hubungan supervisor pada pengajar
pendidikan (turney, dkk., 1982). Keterampilan
didefenisikan sebagai Mempresentasikan (presenting),
pertanyaan (questioning), pemecahan
masalah (problem solving) dan
konferensi (conferencing) dan setiap
keterampilan mempunyai bnayak komponen:
1. Presenting,
mempunyai komponen mengusulkan, modelling dan penjelasan.
2. Questioning,
mempunyai komponen tambahan: peningkatan level, istirahat, penyelidikan,
menjawab pertanyaan berbeda.
3. Pemecahan
masalah, mempunyai komponen menggambarkan masalah, mengidentifikais faktor dan
menemukan informasi, mencari solusi, mengaplikasikan dan menilai solusi.
4.
Conferencing,
mempunyai komponen perencanaan untuk konferensi, petunjuk diskusi dan
mengakhiri diskusi.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari makalah yang kami
buat, kami dapat menyimpulkan bahwa dalam keperawatan peran perawat sebagai
pelajar dan pengajar itu sangat penting. Karena dari kedua peran tersebut mempunyai tujuan yang berbeda, seperti yang
kita ketahui bahwa peran perawat sebagai prelajar ialah program meliputi pendidikan akademik formal lanjutan,
program pengembangan sumber daya manusia (human resource development, HRD)
berbasis institusi. Sedangkan peran perawat sebagai pengajar ialah pendidikan
kesehatan, bagaimana melakukan perawatan diri, petunjuk minum obat, termasuk
efek samping dan bagaimana melakukan terapi yang diresepkan.
B.
Saran
Dari uraian makalah yang telah disajikan maka kami
menginginkan teman-teman dari kelompok lain dapat memberikan komentar atau
kritikan mengenai makalah yang kami buat sesuai dengan judul yang kami angkat.
DAFTAR
PUSTAKA