Kamis, 08 Mei 2014

ASKEP HIPERTROPI PROSTAT

KONSEP DASAR MEDIS

A.     Pengertian
Hipertropi Prostat adalah hiperplasia dari kelenjar periurethral yang kemudian mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer dan menjadi simpai bedah. (Jong, Wim de, 1998).
Benign Prostatic Hypertrophy ( BPH ) adalah pembesaran jinak kelenjar prostat, disebabkan oleh karena hiperplasi beberapa atau semua komponen prostat meliputi jaringan kelenjar / jaringan fibromuskuler yang menyebabkan penyumbatan uretra pars prostatika (Lab / UPF Ilmu Bedah RSUD dr. Sutomo, 1994 : 193).

B.     Etiologi
Penyebab terjadinya Benigna Prostat Hipertropi belum diketahui secara pasti. Tetapi hanya 2 faktor yang mempengaruhi terjadinya Benigne Prostat Hypertropi yaitu testis dan usia lanjut.
Ada beberapa teori mengemukakan mengapa kelenjar periurethral dapat mengalami hiperplasia, yaitu :
1.      Teori Sel Stem (Isaacs 1984)
Berdasarkan teori ini jaringan prostat pada orang dewasa berada pada keseimbangan antara pertumbuhan sel dan sel mati, keadaan ini disebut steady state. Pada jaringan prostat terdapat sel stem yang dapat berproliferasi lebih cepat, sehingga terjadi hiperplasia kelenjar periurethral.
2.      Teori MC Neal (1978)
Menurut MC. Neal, pembesaran prostat jinak dimulai dari zona transisi yang letaknya sebelah proksimal dari spincter eksterna pada kedua sisi veromontatum di zona periurethral.

C.     Anatomi Fisiologi
Kelenjar proatat adalah suatu jaringan fibromuskular dan kelenjar grandular yang melingkari urethra bagian proksimal yang terdiri dari kelnjar majemuk, saluran-saluran dan otot polos terletak di bawah kandung kemih dan melekat pada dinding kandung kemih dengan ukuran panjang : 3-4 cm dan lebar : 4,4 cm, tebal : 2,6 cm dan sebesar biji kenari, pembesaran pada prostat akan membendung uretra dan dapat menyebabkan retensi urine, kelenjar prostat terdiri dari lobus posterior lateral, anterior dan lobus medial, kelenjar prostat berguna untuk melindungi spermatozoa terhadap tekanan yang ada uretra dan vagina. Serta menambah cairan alkalis pada cairan seminalis.

D.     Patofisiologi
Menurut Mansjoer Arif tahun 2000 pembesaran prostat terjadi secara perlahan-lahan pada traktus urinarius. Pada tahap awal terjadi pembesaran prostat sehingga terjadi perubahan fisiologis yang mengakibatkan resistensi uretra daerah prostat, leher vesika kemudian detrusor mengatasi dengan kontraksi lebih kuat.
Sebagai akibatnya serat detrusor akan menjadi lebih tebal dan penonjolan serat detrusor ke dalam mukosa buli-buli akan terlihat sebagai balok-balok yang tampai (trabekulasi). Jika dilihat dari dalam vesika dengan sitoskopi, mukosa vesika dapat menerobos keluar di antara serat detrusor sehingga terbentuk tonjolan mukosa yang apabila kecil dinamakan sakula dan apabila besar disebut diverkel. Fase penebalan detrusor adalah fase kompensasi yang apabila berlanjut detrusor akan menjadi lelah dan akhirnya akan mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk kontraksi, sehingga terjadi retensi urin total yang berlanjut pada hidronefrosis dan disfungsi saluran kemih atas.

E.     Tanda dan Gejala
1.      Hilangnya kekuatan pancaran saat miksi (bak tidak lampias)
2.      Kesulitan dalam mengosongkan kandung kemih.
3.      Rasa nyeri saat memulai miksi
4.      Adanya urine yang bercampur darah (hematuri).

F.      Komplikasi
1.      Aterosclerosis
2.      Infark jantung
3.      Impoten
4.      Haemoragik post operasi
5.      Fistula
6.      Striktur pasca operasi & inconentia urine


G.    Pemeriksaan Diagnostik
1.      Laboratorium
Meliputi ureum (BUN), kreatinin, elekrolit, tes sensitivitas dan biakan urin.
2.      Radiologis
Intravena pylografi, BNO, sistogram, retrograd, USG, Ct Scanning, cystoscopy, foto polos abdomen. Indikasi sistogram retrogras dilakukan apabila fungsi ginjal buruk, ultrasonografi dapat dilakukan secara trans abdominal atau trans rectal (TRUS = Trans Rectal Ultra Sonografi), selain untuk mengetahui pembesaran prostat ultra sonografi dapat pula menentukan volume buli-buli, mengukut sisa urine dan keadaan patologi lain seperti difertikel, tumor dan batu (Syamsuhidayat dan Wim De Jong, 1997).
3.      Prostatektomi Retro Pubis
Pembuatan insisi pada abdomen bawah, tetapi kandung kemih tidak dibuka, hanya ditarik dan jaringan adematous prostat diangkat melalui insisi pada anterior kapsula prostat.
4.      Prostatektomi Parineal
Yaitu pembedahan dengan kelenjar prostat dibuang melalui perineum.

H.    Penatalaksanaan
a.       Non Operatif
a.       Pembesaran hormon estrogen & progesteron
b.      Massase prostat, anjurkan sering masturbasi
c.       Anjurkan tidak minum banyak pada waktu yang pendek
d.      Cegah minum obat antikolinergik, antihistamin & dengostan
e.       Pemasangan kateter.
b.      Operatif
Indikasi : terjadi pelebaran kandung kemih dan urine sisa 750 ml
a.       TUR (Trans Uretral Resection)
b.      STP (Suprobic Transersal Prostatectomy)
c.       Retropubic Extravesical Prostatectomy)
d.      Prostatectomy Perineal



PENYIMPANGAN KDM










KONSEP ASUHAN KEPERWATAN
A.    Pengkajian
·         Data subyektif :
1.      Pasien mengeluh sakit pada luka insisi.
2.      Pasien mengatakan tidak bisa melakukan hubungan seksual.
3.      Pasien selalu menanyakan tindakan yang dilakukan.
4.      Pasien mengatakan buang air kecil tidak terasa.
·         Data Obyektif :
1.      Terdapat luka insisi
2.      Takikardi
3.      Gelisah
4.      Tekanan darah meningkat
5.      Ekspresi w ajah ketakutan
6.      Terpasang kateter

B.     Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul
1.      Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan spasme otot spincter
2.      Kurang pengetahuan : tentang TUR-P berhubungan dengan kurang informasi
3.      Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri / efek pembedahan

C.    Intervensi
·         Diagnosa Keperawatan 1 :
Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan spasme otot spincter
Tujuan :
Setelah dilakukan perawatan selama 3-5 hari pasien mampu mempertahankan derajat kenyamanan secara adekuat.
Kriteria hasil :
1.      Secara verbal pasien mengungkapkan nyeri berkurang atau hilang.
2.      Pasien dapat beristirahat dengan tenang.


Intervensi :
1.      Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas (skala 0 - 10)
2.      Monitor dan catat adanya rasa nyeri, lokasi, durasi dan faktor pencetus serta penghilang nyeri.
3.      Observasi tanda-tanda non verbal nyeri (gelisah, kening mengkerut, peningkatan tekanan darah dan denyut nadi)
4.      Beri kompres air hangat pada abdomen terutama perut bagian bawah.
5.      Anjurkan pasien untuk menghindari stimulan (kopi, teh, merokok, abdomen tegang)
6.      Atur posisi pasien senyaman mungkin, ajarkan teknik relaksasi
7.      Lakukan perawatan aseptik terapeutik
8.      Laporkan pada dokter jika nyeri meningkat.

·         Diagnosa Keperawatan 2 :
Kurang pengetahuan: tentang TUR-P berhubungan dengan kurang informasi
Tujuan :
Klien dapat menguraikan pantangan kegiatan serta kebutuhan berobat lanjutan Kriteria hasil :
1.      Klien akan melakukan perubahan perilaku.
2.      Klien berpartisipasi dalam program pengobatan.
3.      Klien akan mengatakan pemahaman pada pantangan kegiatan dan kebutuhan berobat lanjutan.
Intervensi :
1.      Beri penjelasan untuk mencegah aktifitas berat selama 3-4 minggu.
2.      Beri penjelasan untuk mencegah mengedan waktu BAB selama 4-6 minggu; dan memakai pelumas tinja untuk laksatif sesuai kebutuhan.
3.      Pemasukan cairan sekurang–kurangnya 2500-3000 ml/hari.
4.      Anjurkan untuk berobat lanjutan pada dokter.
5.      Kosongkan kandung kemih apabila kandung kemih sudah penuh.



·         Diagnosa Keperawatan 3 :
Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri / efek pembedahan
Tujuan :
Kebutuhan tidur dan istirahat terpenuhi
Kriteria hasil :
1.      Klien mampu beristirahat / tidur dalam waktu yang cukup.
2.      Klien mengungkapan sudah bisa tidur.
3.      Klien mampu menjelaskan faktor penghambat tidur.
Intervensi :
1.      Jelaskan pada klien dan keluarga penyebab gangguan tidur dan kemungkinan cara untuk menghindari.
2.      Ciptakan suasana yang mendukung, suasana tenang dengan mengurangi kebisingan.
3.      Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan penyebab gangguan tidur.
4.      Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat yang dapat mengurangi nyeri (analgesik).




DAFTAR PUSTAKA
Doenges, M.E., Marry, F..M and Alice, C.G., 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Long, B.C., 1996. Perawatan Medikal Bedah : Suatu Pendekatan Proses Keperawatan. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Lab / UPF Ilmu Bedah, 1994. Pedoman Diagnosis Dan Terapi. Surabaya, Fakultas Kedokteran Airlangga / RSUD. dr. Soetomo.
Hardjowidjoto S. (1999).Benigna Prostat Hiperplasia. Airlangga University Press. Surabaya

Soeparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. FKUI. Jakarta.

Kamis, 09 Januari 2014

Peran Keperawatan Sebagai Pengajar dan Pelajar

BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Perawat memiliki tanggung jawab untuk belajar dan mengajar. Mereka harus terus belajar sehingga mereka dapat mempertahankan pengetahuan dan keterampilan mereka di tengah-tengah banyaknya perubahan dalam perawatan kesehatan. Mereka pengajar klien dan keluarganya, profesional perawatan kesehatan lain, dan asisten keperawatan yang diberikan delegasi perawatan, dan mereka berbagi keahlian mereka dengan perawat lain dan professional kesehatan. Berebrapa perawat mengajarkan profesi mereka kepada yang kelas dan dapat terjadi dalam semua tatanan praktik. 
Belajar adalah suatu proses yang kompleks, dan terdapat banyak teori mengenai bagaimana belajar itu terjadi. Teori belajar ini secara umum berlandaskan pada asumsi mengenai orang, sifat dari pengetahuan, dan bagaimana oarng belajar. Pendekatan eklektik menganggap bahwa tidak ada satu teori pun yang lebih benar dari teori lain. Saat ini semakin banyak informasi yang tersedia mengenai gaya belajar orang.
Terdapat juga keyakinan mengenai bagaimana pengajaran menjadi paling efektif. Hal ini umumnya disebut sebagai prinsip pengajaran. Baik belajar maupun mengajar adalah suatu proses yang aktif dan ineraktif. Baru-baru ini, terjadi peningkatan focus pada pengajaran berbasis hasil akhir dan pengajaran basis bukti.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian peranan ?
2.      Bagaimanakah peran perawat sebagai pelajar ?
3.      Bagaimanakah proses belajar itu ?
4.      Bagaimanakh peran perawat sebagai pengajar ?
5.      Bagaimanakah seni mengajar itu ?
6.      Apakah peran Clinical Instructor itu ?
C.     Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui pengertian peranan.
2.      Untuk mengetahui bagaimana peran perawat sebagai pelajar.
3.      Untuk mengetahui bagamana proses belajar.
4.      Untuk mengetahui bagaimana peran perawat sebagai pengajar.
5.      Untuk mengetahui bagamaimana seni mengajar.
6.      Untuk mengetahui peran Clinical Instructor.
BAB II
PEMBAHASAN

A.     Pengertian
Peranan adalah pola tingkah laku yang diharapkan dari seseorang yang menduduki suatu jabatan atau pola tingkah laku yang diharapkan pantas dari seseorang. Oleh karena itu seharusnya seorang CI diberi wewenang dan tanggungjawab yang jelas sesuai dengan perannya dalam merancang, mengelola, dan mengevaluasi pemebelajaran klinik  terhadap peserta didik ditatanan klinik. Namun seringkali kita melihat dan merasakan  keadaan yang berbeda dimana seorang CI sulit sekali menunjukkan kemampuannya dalam membimbing peserta didik karena berbagai sebab antara lain adalah kurangnya kepercayaan diri dan ketidakjelasan peranan yang di berikan institusi pendidikan pada para CI tersebut. Hal inilah yang mendorong pentingnya pembahasan peran CI ini dalam pelatihan Clinical Instructor saat ini, semoga memberi kejelasan akan peran fungsi dan tanggungjawabnya dalam membimbing para peresta didik di tatanan klinik.

B.     Perawat Sebagai Pelajar
Terdapat beberapa cara agar perawat dapat belajar, meliputi pendidikan akademik formal lanjutan, program pengembangan sumber daya manusia (human resource development, HRD) berbasis institusi, pendidikan lanjutan yang dianjurkan atau diwajibkan secara legislasi, atau pendidikan pilihan individu secara episodik. 
Pendidikan akademik formal lanjutan termasuk studi pascasarjana pada tingkat master atau doctoral. Studi tingkat sarjana dalam bidang keperawatan atau disiplin lain memperkuat praktik keperawatan. Contoh; perawat bagian administrasi dapat memilih untuk mengejar gelar master dalam bidang administrasi keperawatan, administrasi perawatan kesehatan, dan administrasi bisnis.
Swansburg (1995, hlm.2) mendefinisikan pengembangan sumber daya manusia sebagai “proses yang digunakan manajemen perusahaan untuk menstimulasi motivasi pekerja guna melakukan tugas secara produktif. HRD memberikan stimulus yang memotivasi personel keperawatan ke klien menurut standar kualitas dan kuantitas yang mempertahankan nama baik keberadaan pearawatn kesehatan dan terjangkau secara financial kepuasan, perawat dengan prestasi profesionalnya dan kualitas kehidupan kerjanya, dan penanganan klien secara baik”. Contoh; Pemilik institusi mungkin menawarkan program untuk mengorientasikan anggota staf baru, menginformasikan perawat mengenai kebijakan institusi yang baru, membiasakan perawat dengan perlengkapan yang baru, mempersiapkan perawat untuk sertifikasi tingkat praktik lanjutan atau spesialisasi, atau mengimplementasikan kerangka kerja konseptual ahli teori perawat sebagai panduan praktik keperawatn dalam institusi.
Pendidikan lanjutan (Countinuining Education [CE]) mengacu pada pengalaman yang diformalkan yang dirancang untuk mengembangkan pengetahuan atau keterampilan perawat. Program ini cenderung lebih khusus dan lebih singkat dibandingkan dengan studi tingkat akdemik lanjutan yang formal dan tanggung jawab setiap perawat praktisi. Pembaharuan dan perkembangan yang konstan penting bagi perawat untuk tetap mengikuti perubahan ilmu dan teknologi dan perubahan-perubahan dalam profesi keperawatan. 
Aktivitas belajar episodik ditentukan oleh perawat itu sendiri. Aktivitas belajar episodik adalah aktivitas yang berbeda dan terpisah dari pendidikan formal atau terencana. Berlangganan dan membaca jurnal profesional dan buletin berkala dan surat kabar komersial adalah contoh dari aktivitas pendidikan episodik perawat.

C.     Proses Belajar
Orang-orang termasuk klien, memiliki kebutuhan belajar yang bervariasi. Kebutuhan belajar ditandai dengan keinginan atau kebutuhan untuk mengubah perilaku atau “gap antara informasi yang diketahui individu dan informasi yang diperlukan untuk melaksanakan fungsi atau perawatan untuk diri sendiri” (Gessner, 1989: 593). Pembelajaran adalah suatu perubahan disposisi atau kapabilitas manusia yang berlangsung selama periode waktu tertentu dan tidak dapat semata-mata ditentukan oleh pertumbuhan. Pembelajaran ditentukan oleh perubahan perilaku.
Aspek penting dari pembelajaran adalah keinginan individu untuk belajar, dan untuk bertindak berdasarkan apa yang dipelajari. Keinginan ini digambarkan dengan baik saat seseorang menyadari dan menerima kebutuhan untuk belajar, berkeinginan untuk menghabiskan energi yang diperlukan untuk belajar, dan kemudian diikiuti oleh perilaku yang sesuai yang mencerminkan pembelajaran tersebut. Sebagai contoh, seseorang yang didiagnosis menderita diabetes berkeinginan untuk mempelajari diet khusus yang diperlukan dan kemudian merencanakan dan mengikuti diet yang dipelajari tersebut.



1.      Teori Belajar
Terdapat sejumlah teori dan sejumlah ahli Psikologi yang terkait dengan teori belajar. Lima konstruk teoretis kontemporer adalah behaviorisme, kognitivisme, humanisme, kontruktivisme, dan kecerdasan multiple.
2.      Behaviorisme (perilaku)
Dikembangkan oleh Edward Thorndike, meyakini bahwa transfer dapat terjadi jika situasi baru sangat menyerupai situasi yang dahulu. Pemahaman digunakan dalam konteks membangun koneksi. Lingkungan mempengaruhi perilaku dan bagaimana seseorang mengontrol perilaku, dan lingkungan adalah faktor penting yang menentukan tindakan manusia. Suatu tindakan disebut respon ketika tindakan tersebut dapat ditelusuri sampai keefek dari stimulus.
3.      Teori Operant Conditioning Skinner
Mempostulatkan dua tipe Pengkondisian (respon perilaku terhadap stimulus) yang menimbulkan respon atau perilaku. Tipe pengkondisian yang pertama yaitu classical contioning. Pengkondisian klasik adalah suatu prosedur saat respons yang terkondisi dibentuk oleh asosiasi dari stimulus baru yang diketahui menyebabkan respons yang tak terkondisi. Respons yang dihasilkan oleh respons yang terkondisi dengan stimulus baru (tidak berhubungan). 
Tipe pengkondisisan kedua yaitu operan conditioning suatu proses yang frekuensi responsnya dapat dinaikkan atau diturunkan bergantung pada kapan, bagaimana, dan sampai sejauh mana respons itu dikuatkan. Skinner meyakini bahwa manusia, sama seperti binatang, akan selalu mengulangi tindakan yang menyenangkan. Dia mempertimbangkan dampak dari tindakan, yang disebutnya Penguatan (reinforcement), menjadi sangat penting. Dampak positif mendukung pengulangan tindakan, dampak negative atau tidak adanya dampak dapat menyebabkan tindakan dihentikan. Penghapusan (Extinction) adalah proses saat perilaku terkondisi “hilang dari ingatan” karena penguatannya dihilangkan.
4.      Kognitivisme
Kognitivisme menggambarkan pembelajaran sebagai kativitas kognitif yang kompleks. Ahli kognitivisme memandang pembelajaran sebagai pengembangan pemahaman dan penghargaan yang membantu individu berfungsi dalam konteks yang lebih luas. Pembelajaran dilandaskan pada perubahan persepsi yang pembelajaran itu sendiri dipengaruhi oleh indera dan variable internal dan eksternal. Pembelajaran adalah suatu proses mental, intelektual, atau berpikir. Pelajar menyusun dan memproses informasi berdasarkan pada persepsinya terhadap informasi tersebut. Persepsi pelajar dipengaruhi oleh karakteristik personal dan pengalaman mereka. Pentingnya konteks sosial, emosional, dan fisik ketika pembelajaran terjadi, seperti hubungan pengajar-pelajar dan lingkungan. Kesiapan perkembangan dan kesiapan individu (dinyatakan sebagai motivasi) adalah faktor-faktor penting lain yang dikaitkan dengan pendekatan kognitif.
5.      Humanisme
Berfokus pada area kognitif dan afektif (perasaan dan sikap). Berfokus pada seseorang secar keseluruhan dan kemudian terkait dengan filosofi asuhan yang holistic. Pembelajaran diyakini dimotivasi sendiri, dimulai sendiri, dan dievaluasi sendiri. Tiap-tiap individu dipandang sebagai komposisi unik dari faktor-faktor bio-psiko-sos-bud-spiritual. Otonomi dan penentuan diri adalah hal yang penting, pelajar mengidentifikasi kebutuhan belajar dan mengambil inisiatif untuk memenuhi kebutuhan ini. Pelajar adalah mereka yang berpartisipasi aktif dan mengambil tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan belajar diri sendiri.
6.      Kategirisasi
Persepsi, konseptualisasi, belajar, dan pengambilan keputusan semua bergantung pada informasi yang di kategorisasikan. Manusia menginterpretasikan informasi dalam hal persamaan dan perbedaan yang terdeteksi dan mengatur informasi tersebut dalam kategori yang terkait. Contoh, terdapat ratusan tulang dalam tubuh. Dengan mengkategorikannya ke dalam tipe tulang utama (mis, tulang panjang, tulang pipih) atau tubuh (mis, tulang kepala, tulang lengan, vertebra), akan lebih mudah untuk mempelajarinya.
7.      Kontruktivisme
Kontruktivisme adalah suatu sitilah yang realtif baru. Menunjukkan kumpulan teori dengan karakteristik umum individu yang secara aktif membentuk pengetahuan untuk memecahkan maslah yang realistis, sering kali berkolaborasi dengan orang lain. Pembelajaran sebagai suatu perubahan dalam makna yang dibangun dari pengalaman.
8.      Kecerdasan Multipel
Mengukur kecerdasan dengan menggunakan intelligence quotient, atau IQ. Kecerdasan pada tingkat terlalu rendah akan meghambat individu untuk berpartisipasi dalam situasi belajar yang penuh tuntutan secara intelektual dan bahwa pada kecerdasan pada tingkat yang lebih tinggi mengindikasikan kejeniusan.
9.      Penerapan Teori Belajar
Teori perilaku mencakup pengidentifikasian yang cermat mengenai apa yang akan diajarkan dan pengidentifikasian segera serta penghargaan untuk respons yang benar. Perawat yang menerapkan teori perilaku akan melakukan hal-hal sebagai berikut :
·         Menyediakan waktu praktik yang cukup dan menyegerakan serta mengulang pengujian dan redmonstrasi.
·         Memberikan kesempatan bagi pelajar untuk memecahkan masalah dengan trial dan error.
·         Memilih strategi pengajaran yang menghindari distraksi informasi dan membangkitkan respons yang diinginkan.
·         Memuji pelajar jika melakukan perilaku yang benar dan memberikan umpan balik positif sewaktu-waktu selama pengalaman belajar.
·         Menyediakan model peran dari perilaku yang diinginkan.
Teori kognitif adalah pengenalannya akan tingkat perkembangan pelajar, dan pengakuan adanya motivasi pelajar dan lingkungan. Para perawat yang menerapkan akan melakukan hal :
·         Mengkaji tingkat perkembangan seseorang dan kesiapannya untuk belajar serta menyesuaikan strategi pengajaran ke tingkat perkembangan pelajar.
·         Menyediakan lingkungan sosial, emosional, dan fisik yang kondusif untuk belajar.
·         Mendorong hubungan pelajar-pelajar yang positif.
·         Memilih strategi pengajaran multisensorik karena persepsi dipengaruhi oleh indera.
·         Memilih tujuan dan strategi perilaku yang mencakup domain belajar kognitif, afektif, dan psikomotor.
Humanisme adalah fokusnya pada perasaan dan sikap pelajar, pentingnya individu dalam mengidentifikasi kebutuhan belajar, dalam bertangggung jawab pada diri mereka, dan pada motivasi diri pelajar kearah bergantung pada diri sendiri dan kemandirian. Perawat yang menerapkan akan melakukan hal-hal berikut :
·         Mendorong pelajar untuk menetapkan tujuan dan meningkatkan pembelajaran yang diarahkan sendiri.
·         Mendorong pembelajaran aktif dengan bertindak sebagai fasilitator, pembimbing, atau narasumber untuk pelajar.
·         Memberikan informasi baru yang relevan kepada pelajar tersebut mencari jawabannya.
10.  Proses Belajar Kognitif
Belajar melibatkan tiga proses kognitif (mental); pemerolehan informasi, pemrosesan informasi, dan penggunaan informasi. Ketiga proses ini dapat terjadi secara berurutan atau secara stimulant.
a.       Pemerolehan Informasi
Dalam hal ini mencakup dua proses yaitu penerimaan dan diskriminasi sensori. Penerimaan sensori kemungkinan oleh sistem neurosensorik. Stimulus dalam lingkunagan memberi sinyal pada indera yang sesuai, seperti penglihatan, pendengaran dan penciuman. Penerimaan sensori secara umum terjadi terus-menerus, tetapi tidak selalu berupa proses yang disadari.
Diskriminasi adalah kemampuan untuk menentukan stimulus mana yang relevan dalam situasi tertentu. Dapat berupa benda, ide, tindakan, atau fakta. Ada yang berupa interna (mis, di dalam tubuh) dan eksternal.
b.      Pemrosesan Informasi
Informasi diperoleh dalam tiga langkah: asosiasi, generalisasi, dan pembentukan konsep. Asosiasi adalah penggabungan dua atau lebih ide. Contoh, seseorang dapat mengasosiasikan objek misalnya sebuah jarum dengan kata jarum dan atau dengan pengalaman nyeri. Generalisasi adalah merasakan kesamaan antar sebagai stimulus. Contoh, kesamaan antara tiga computer yang berbeda. Pembentukan konsep adalah pengorganisasian stimulus yang memiliki kesamaan atribut. Contoh, perawat yang memahami konsep caring mengharagai karakteristik yang terkait dengan caring. Perawat tersebut kemudian dapat membantu orang lai untuk melaksanakan caring dalam tatanan perawatan kesehatan.
c.       Penggunaan Informasi
Aplikasi informasi dalam area kognitif, afektif, dan psikomotor. Kemampuan untuk merumuskan dan mengaitkan konsep adalah hal yang penting untuk berpikir kritis yang penting. Selain itu, pengaitan konsep adalah hal penting untuk berpikir kreatif dan memcahkan masalah.
11.  Faktor yang Memfasilitasi Belajar
Belajar adalah suatu fenomena kompleks. Belajar adalah proses interaktif atara pelajar, pendidik, lingkungan dan banyak unsur, termasuk gaya belajar dan gaya mengajar. Berikut adalah yang dipertimbangkan oleh perawat.
a.       Motivasi
Keinginan untuk belajar. Motivasi memiliki pengaruh yang besar dalam seberapa cepat dan seberapa banyak seseorang belajar. Biasanya terjadi saat seseorang mengalami kebutuhan dan yakin kebutuhan tersebut akan dapat dipenuhi melalui belajar, tidak cukup hanya diidentifikasi dan diungkapkan oleh perawat, kebutuhan itu harus dialami oleh klien. Tugas perawat adalah membantu klien secara personal menyelesaikan masalah dan mengidentifikasi kebutuhan. Contoh, klien yang menderita penyakit jantung perlu mengetahui efek merokok sebelum mereka menyadari kebutuhan untuk berhenti merokok. Atau remaja mungkin perlu mengetahui akibat penyakit menular seksual yang tidak diobati sebelum mereka melihat kebutuhan akan terapi.
b.      Kesiapan
Perilaku yang mencerminkan motivasi pada waktu belajar. Mencerminkan keingonan dan kemampuan klien untuk belajar. Peran perawat seringkali untuk mendorong perkembangan dari kesiapan tersebut.
c.       Keterlibatan Aktif
Proses membuat pelajaran lebih bermakna. Apabila pelajar berpartisipasi aktif dalam perncanaan dan diskusi, pembelajaran akan lebih cepat dan retensinya akan lebih baik. Pembelajarn pasif, sperti mendengarkan dosen atau menonton film, tidak membantu pembelajarn optimal. Kepercayaan diri dalam hal kemampuan belajar dapat mengurangi kecemasan dan kegagalan dan dapat memotivasi belajar lebih banyak. Pelajar yang berhasil telah meningkatkan kepercayaan dirinya da menerima kegagalan. Orang akan belajar paling baik saat mereka yakin bahwa mereka diterima dan tidak akan dinilai.
d.      Umpan balik
e.       Informasi yang mengaitkan
D.     Perawat Sebagai Pengajar
Perawat memiliki banyak peran mengajar, mereka dapat mengajar individu pelajar, misalnya pasien yang membutuhkan petunjuk mengenai terapi, atau mereka dapat mengajar secara berkelompok, misalnya calon orang tua yang mengikuti kelas Lamaze. Adapun peran pengajaran primer perawat adalah dalam mengajarkan pasien dan keluarga. Pengajar seperti ini mencakup pendidikan kesehatan, bagaimana melakukan perawatan diri, petunjuk minum obat, termasuk efek samping dan bagaimana melakukan terapi yang diresepkan. Sebagian besar pendidikan yang diberikan kepada pasien secara langsung, namun anggota keluarga atau pemberi perawatan juga dapat diajarkan mengenai perawatan pasien. Hal ini terutama penting bagi pasien yang memiliki kesulitan dalam melakukan perawatan diri. Perawat juga mengajar perawat lain dan profesional kesehatan yang lainnya. Perawat yang berpengalaman sering bertindak sebagai pembimbing, mengajar perawat baru mengenai kebijakan dan prosedur di unit keperawatan. Perawat mengajar program pendidikan lanjutan untuk perawat lainnya. Program lanjutan dapat mencakup kursus keperawatan spesialis seperti keperawatan intensif atau keperawatan perioperatif, atau dapat berupa kelas meningkatkan pengetahuan perawat terkait dengan penelitian baru pengobatan atau prosedur, misalnya informasi mengenai perawatan orang yang menderita HIV/ AIDS. Perawat mengajarkan mahasiswa keperawatan baik secara informal saat mahasiswa berada di unit keperawatan atau secara formal di ruangan. Perawat juga mengajar anggota tim perawatan kesehatan lain termasuk dokter. Perawat pendidik seringg memberikan pengajaran di tempat kerja mengenai kebijakan baru, dan pelajarnya dapat mencakup semua orang yang dipengaruhi oleh kebijakan tersebut, seperti saat sistem pendokumentasian baru diemplementasikan.
Perawat mengajar bawahan atau staf tambahan. Asisten perawatan pasien, relawan, tenaga bantuan untuk diet, personel pengurus rumah tangga, dan sekretaris unit berpartisipasi dalam perawatan pasien pada tinggkat yang bervariasi. Perawat dapat bertanggung jawab untuk mengajarkan anggota staf ini mengenai tanggung jawab mereka .
Perawat juga berpartisipasi dalam aktivitas pendidikan di komunitas. Perawat dapat mengajar siswa sekolah menengah atas mengenai penyakit menular seksual, kehamilan pada remaja dan penyalahgunaan alkohol serta obat-obatan. Mereka juga dapat mengajar lansia mengenai pengobtan sendiri dan aktivitas perawatan diri lainnya. Mereka mengajar kelas di komunitas mengenai hipertensi, faktor resiko penyakit jantung atau penyakit lain. Untuk mencegah penyakit atau cidera, masyarakat harus diberi informasi, perawat dihargai dan memiliki pengetahuan serta berada dalam posisi untuk memberikan informasi seperti itu.

E.     Seni Mengajar
Pengajaran adalah suatu sistem aktivitas yang secara singkat dirancang untuk menghasilkan pembelajaran khusus, ini adalah suatu aktivitas bertujuan yang menghasilkan peningktan pembelajaran bagi pelajar. Pengajar lebih dari hanya sekedar pemberian informasi, seni mengajar terletak pada pemberian pengetahuuan, keterampilan,dan keinginan kepada pelajar untuk mengubah beberapa aspek kehidupannya. Pengajaran yang efektif membutuhkan penengetahuan mengenai materi aspek,pemahaman proses belajar, penilaian dan intuisi.
Proses belajar/mengajar melibatkan interaksi yang dinamis antara pengajar dan pelajar. Tiap-tiap partisipan dalam proses tersebut mengkomunikasikan informasi, emoosi, persepsi dan sikap ke orang lain. Hubungan antara pengajar dan pelajar dilandasi oleh rasa percaya dan untuk mengajar dan pengajar menghargai kemampuan pelajar untuk mencapai tujuan yang telah dikenali. Setelah perawat mulai mengajar klien atau rekan kerja, penting agar proses mengajar terus berlanjut hingga peserta mencapai tujuan belajar, mengajar, mengubah tujuan, atau memutuskan bahwa tujuan tidak dapat dicapai.
Perawat memiliki tanggung jawab untuk menjaga agar pengetahuan klinis mereka tetap mutakhir. Amerika Nurse Assosiation (ANA) mencantumkan empat standar praktik keperawatan klinis yang berkaitan secara langsung dengan belajar dan mengajar.
1.      Pedoman Belajar dan Mengajar
Pedoman berikut mengenai belajar/mengajar efektif mungkin dapat membantu perawat, di antaranya sebagai berikut :
·         Aktivitas pembelajaran harus membantu pelajar mencapai tujuan pembelajaran individu. Tujuan ini harus ditentukan bersama klien (pelajar) dan perawat (pengajar).
·         Hubungan antara pelajar dan pengajar itu penting, hubungan yang saling menerima dan konstruktif akan sangat membantu pembelajaran.
·         Perawat-pendidik harus mampu berkomunikasi dengan jelas dan singkat, kata-kata yang digunkan perawat harus memiliki makna yang sama bagi pelajar dan pengajar.
·         Pengetahuan pelajar dan faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran mereka harus ditetapkan sebelum merencanakan pengajaran.
·         Saat seseorang terlibat dalam perencanaan,pembelajaran sering kali meningkat.
·         Pengajaran yang sering melibatkan sejumlah indra pelajar sering kali meningkatkan pembelajaran.
·         Perubahan perilaku yang diperkirakan yang menunjukkan bahwa pembelajaran telah dilakukan harus selalu terjadi dalam konteks gaya hidup dan sumber klien.
2.      Karakteristik Pengajaran Yang Efektif
Adapun Karakteristik pengajaran yang efektif yaitu meliputi:
·         Mempertahankan minat pelajar.
·         Melibatkan pelajar dalam proses belajar atau membuat kemitraan antara pelajar dan pengajar.
·         Membantu perkembangan konsep diri yang positif pada pelajar yaitu pelajar menyakini bahwa mungkin dan berpeluang dilakukan.
·         Menyusun tujuan yang realistis.
·         Diarahkan untuk membantu pelajar mencapai tujuan belajar.
·         Mendukung pelajar dengan penguatan yang positif.
·         Akurat dan terkini.
·         Sesuai dengan usia, kondisi, dan kemampuan pelajar.
·         Optimis, positif, dan tidak mengancam.
·         Menggunakan metode pengajaran untuk mengakomodasi gaya belajar yang bervariasi.
·         Mengumpulkan informasi dari informasi yang dapat dipercaya.
·         Hemat biaya (biaya dari waktu yang digunakan perawat untuk mengajar lebih sedikit dari biaya mengatasi masalah yang sedang terjadi saat klien mengikuti terapi yang direkomendasikan, gagal meminum obat dengan benar, atau tidak menyesuaikan gaya hidup untuk mengubah kebutuhan kesehatan).
3.      Implementasi Rencana Pengajaran
Perawat perlu fleksibel dalam mengimplimentasikan setiap rencana pengajaran, karena rencana tersebut mungkin membutuhkan revisi. Pelajar dapat lelah lebih awal dari yang diperkirakan atau yang dihadapkan dengan terlalu banyak informasi dalam waktu yang terlalu cepat. Pada kasus ini, perawat mengubah rencana pengajaran dan mendiskusikan informasi yang diinginkan, memberikan informasi tertulis, dan menunda pengajaran keterampilan psikomotorik hingga hari berikutnya. Penting juga bagi perawat untuk menggunakan teknik pengajaran yang meningkatkan pembelajaran dan mengurangi atau menyingkirkan penghambatan seperti nyeri atau keletihan.
4.      Pedoman Pengajaran
Saat mengimlementasikan rencana pengajaran, perawat akan merasakan bahwa pedoman berikut ini membantu :
·         Waktu yang optimal untuk tiap sesi sangat bergantung pada pelajar.
·         Kecepatan dari tiap sesi pengajaran juga memengaruhi pembelajaran, para perawat harus sensitif terhadap setiap tanda yang menunjukkan bahwa kecepatan pengajaran terlalu cepat atau terlalu lambat.
·         Lingkungan dapat mengganggu atau membantu pembelajaran.
·         Alat bantu pengajaran dapat membantu pembelajaran dan membantu memfokuskan perhatian pelajar.
·         Pembelajaran akan lebih efektif saat pelajar menemukan materi untuk mereka sendiri.
·         Pengulangan – sebagai contoh,merangkum isi, mengungkapkan kembali (menggunakan kata-kata yang berbeda), dan mendekati materi dari sudut pandang yang berbeda untuk memperkuat pembelajaran.
·         Akan sangat membantu jika memakai ”organizer” untuk memperkenalkan materi yang akan di ajarkan. Penggunaan kosakata orang awam akan meningkatkan komunikasi.
·         Sediakan selebaran yang berisi poin-poin penting dari petunjuk anda.
5.      Evaluasi Pembelajaran Dan Pengajaran
a.       Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi adalah proses berkelanjutan dan proses akhir saat pelajar, perawat, dan sering kali orang pendukung menentukan apa yang telah dipelajari. Pembelajaran diukur menggunakan tujuan pembelajaran pilihan yang telah ditententukan sebelumnya saat fase perencanaan proses pengajaran. Oleh karena itu, tujuan tidak hanya berfungsi mengarahkan rencana pengajaran, tetapi juga menyediakan kriteria hasil untuk evaluasi.
b.      Evaluasi Pengajaran
Penting bagi perawat untuk mengevaluasi pengajaran mereka sendiri. Evaluasi sebaiknya mencakup pertimbangan semua faktor-waktu, strategi pengajaran, jumlah informasi, apakah pengajaran bermanfaat, dan seterusnya. Perawat dapat menemukan, misalnya bahwa pelajar terbebani dengan informasi yang terlalu banyak, merasa bosan, atau termotivasi untuk belajar lebih banyak
Baik pelajar maupun perawat sebaiknya mengevaluasi pengalamn belajar. Pelajar dapat mengatakan pada perawat apa yang membantu, menarik, dan seterusnya. Kuesioner umpan balik dan videotape dari sesi pembelajaran juga dapat membantu.
Perawat sebaiknya tidak merasa tidak efektif sebagai pengajar apabila pengajar lupa beberapa hal yang di ajarkan. Lupa itu hal yang normal dan harus diantisipasi. Meminta pelajar untuk menuliskan informasi, mengulangnya selama pelajaran, memberikan selebaran informasi dan membuat pelajar menjadi aktif dalam proses belajar semuanya meningkatkan retensi.
c.       Strategi Pengajaran Khusus
Terdapat sejumlah strategi pengajaran khusus yang dapat digunakan perawat yaitu: kontrak, pengajaran kelompok, intruksi dengan bantuan komputer, presentasi multimedia, penemuan/pemecahan masalah, dan modifikasi perilaku. Strategi yang dipilih perawat harus sesuai untuk pelajar dan tujuan pembelajaran.
1)     Kontrak
Kontrak melibatkan pembuatan kontrak dengan pelajar yang menyebutkan tujuan tertentu dan kapan tujuan-tujuan itu akan tercapai. Kontrak, ditulis di atas kertas dan ditanda tangani oleh pelajar dan perawat, menyebutkan tidak hanya tujuan pembelajaran, tetapi juga tanggung jawab pelajar dan perawat serta rencana pengajaran. Kesepakatan tersebut memungkinkan kebebasan, saling menghargai, dan tanggung jawab bersama.
2)     Pengajaran Kelompok (group teaching)
Intruksi kelompok bersifat ekonomis dan memberikan kesepakatan bagi anggotanya untuk berbagi dan berlajar dari orang lain. Kelompok kecil memungkinkan diskusi yang dapat diikuti oleh siapapun. Kelompok besar sering membutuhkan teknik kuliah ceramah atau penggunaan film, video, slide, atau bermain peran oleh pengajar.
3)     Presentasi Multimedia
Presentasi multimedia menggabungkan audio, film, video, dan komputer untuk menstimulus banyak indra. Hal ini meningkatkan pembelajaran, dan memberikan pembelajaran yang intruksi yang konsisten. Pelajar dapat menghentikan intruksi dan memutar ulang sesuai dengan kebutuhan. Perawat pendidik dapat menggunakan piranti resentasi untuk menciptakan pelajaran yang berkesan profesional bagi klien. Menyimpan pelajaran dalam CD-ROM membuatnya dapat dipindahkan dari satu komputer ke komputer lain.
4)     Penemuan/Pemecahan masalah
Dalam menggunakan teknik penemuan/pemecahan masalah, perawat menyajikan beberapa informasi awal dan kemudian menanyakan pada pelajar sebuah pertanyaan atau menyajikan sebuah situasi yang terkait dengan informasi tersebut. Pelajar menerapkan informasi baru pada situasi tersebut dan memutuskan apa yang akan dilakukan. Pelajar dapat bekerja sendiri atau dalam kelompok.
5)     Modifikasi Perilaku
Modifikasi prilaku merupakan perkembangan dari teori belajar perilaku. Asumsi dasarnya adalah (1) perilaku manusia dipelajari dan dapat diperkuat, diperlemah, dibatasi, atau digantikan secara selektif dan (2) perilaku seseorang berada dibawah kendali yang disadari. Menurut sitem ini, prilaku yang di inginkan dihormati dan prilaku yang tidak di inginkan di abaikan. Respons pelajar adalah kunci menuju perubahan prilaku. Sebagai contoh, pelajar yang mencoba berhenti merokok tidak dikritik saat mereka merokok, tetapi mereka diberi pujian saat mereka pergi tanpa alkohol selama periode waktu tertentu. Bagi beberapa orang kontrak belajar digabungkan dengan modifikasi perilaku dan mencakup gambaran terkait berikut :

·         Penguatan positif (misal : pujian)
·         Pelajar berpartisipasi dalam penyusunan rencana pengajaran
·         Prilaku yang tidak diinginkan diabaikan,tidak dikritis
·         Harapan pelajar dan perawat adalah bahwa tugas akan dikuasai (misal: perubahan prilaku)

F.      Peran Clinical Instructor
Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan dari seseorang dalam kaitannya dengan statusnya dalam masyarakat. Secara umum Peran dan fungsi Pembimbing klinik:
1. Sebagai guru/pendidik
2. Sebagai Perawat Profesional
3. Sebagai Role Model
Sebagian besar pengajar klinik akan setuju bahwa mereka memainkan banyak peran selama fase pengajaran klinik di lab, briefing (pengarahan singkat), tanya jawab di seting klinik/ komunitas. Mereka juga akan setuju bahwa mereka sering mengambil peran ganda dalam suatu tahap pengajaran klinik sendiri/ tunggal. Peran pengajaran dapat mengembangkan termasuk, sebagai contoh seperti peran sebagai konselor, pemecah masalah, manajer, penilai, advokat, pemandu dan fasilitator. Infante (1975) pada edisi pertamanya peran pengajar klinik berhubungan dengan aktivitas mahasiswa di seting klinik yang pada tahap ini: perhatian di lab klinik tidak seharusnya pada bagaimana merawat tapi bagaimana mengapilkasikan ilmu untuk merawat klien. Caring bukan sama dengan belajar.
Kesimpulan Infante menyebabkan bahwa peran pengajar seharusnya dinyatakan secara jelas untuk merefleksikan penggunaan lab klinik, ketika mahasiswa membutuhkan melihat dan mengatasi situasi kehidupan nyata dan mempelajari mengaplikasikan ilmu ke dalam praktek sesuai permintaan memberikan asuhan.
Pada edisi teksnya tahun 1985, Infante dengan tegas tentang apakah mahasiswa sebagai pelajar yang melakukan di seting klinik ketika peran pengajar sebagai salah satu pengatur yang relevan dengan kegiatan mahasiswa.
Pengajar tidak mengajar di lab klinik. Pengajar telah melakukannya sebelum penggunaan labortorium klinik yaitu di kelas dan lab kampus. Kegiatan yang relevan diatur oleh pengajar untuk mahasiswa yang mengalami kebiasaan mahasiswa. Lab klinik adalah puncak kegiatan yang membuka kesempatan mahasiswa untuk mempraktekan kemampuan intelektual dan keterampilan yang telah didapatkan – tidak mendapatkan prinsip-prinsip teori ketinggalan kemampuan.
Peran pengajar klinik sebagai pemandu, fasilitator dan pendukung selama sesi pembelajaran klinik adalah model yang diusulkan buku ini. Kemampuan yang dibutuhkan pada peran adalah pengembangan yang akan datang pada bab yang lalu dan tergantung pada kesuksesan implementasi lab kampus dan sesi pra klinik atau pengarahan singkat, masing-masing membutuhkan kemampuan tambahan dan berbeda. Tanya jawab atau sesi post konferens melengkapi siklus pembelajaran klinik yang juga tergantung pada kemampuan mengajar klinik yang spesifik.
Stevans (1979) memfokuskan mengajar klinik dalam sebuah kerangka ’pendidikan untuk kegiatan praktek. Peran pengajra klinik adalah merancang tugas belajar dalam kompleksitas seting klinik. Jika mahasiswa belajar untuk berpikir kemudian pengajar klinik membutuhkan untuk menentukan apa ’pola pemikiran’ dibutuhkan oleh registered nurse. Startegi belajar yang memungkinkan mahasiswa mempraktekan pola pemikiran sebagai pelajar akan menyediakan persiapan untuk praktek profesional sebagai lulusan. Ketika berbagai seting klinik dipertimbangkan, perancangan strategi belajar untuk merefleksikan pola pemikiran yang spesifik untuk praktek yang membutuhkan pertimbangan pengalaman pada bagian dari pengajar klinik.  Stevans (1979) mengingatkan kita sebagai pengajar klinik, mengajar suatu peran fungsional (jelas dalam konteks mengajar) termasuk pengajar seharusnya ’menjadi mengetahui dengan baik’. Untuk penekunan lebih lanjut, Stevans menjelaskan pada peran pendidikan,  tidak menambahkan dana pengetahuan mahasiswa tapi juga memengaruhi dirinya. Peran yang satu mengisi hidupnya menjadi bagian dari dirinya. Kemudian pendidik pada area fungsionil hanya menginformasikan pada mahasiswa tapi tidak membentuk mereka dan itu adalah tanggung jawab yang besar.
Ada beberapa peran lain untuk pengajar klinik yang mungkin lebih relevan pada seting khusus dari pada seting umum ketika kebanyakan mahasiswa yang belum lulus diajar. Benner (1989) menggambarkan suatu peran untuk pengajar klinik ’tampak mempunyai pengetahuan yang lebih pada perawatan intensif ’.  Pada tulisan terakhirnya, Benner menyatakan ’jika kita tidak  melakukan pekerjaan mengajar yang baik dari sisi manusia dan dari segi praktek asuhan, lalu mahasiswa kita tidak akan berada pada posisi yang baik untuk diselamatkan dan pelajar dan praktisi  klinik manusia. Kita bertaruh tidak menahan keahlian dan pengertian praktek asuhan kita.
 Komponen kemampuan peran instruktor telah didefenisikan dalam hubungan supervisor pada pengajar pendidikan (turney, dkk., 1982).  Keterampilan didefenisikan sebagai Mempresentasikan (presenting), pertanyaan (questioning), pemecahan masalah (problem solving) dan konferensi (conferencing) dan setiap keterampilan mempunyai bnayak komponen:
1.      Presenting, mempunyai komponen mengusulkan, modelling dan penjelasan.
2.      Questioning, mempunyai komponen tambahan: peningkatan level, istirahat, penyelidikan, menjawab pertanyaan berbeda.
3.      Pemecahan masalah, mempunyai komponen menggambarkan masalah, mengidentifikais faktor dan menemukan informasi, mencari solusi, mengaplikasikan dan menilai solusi.
4.      Conferencing, mempunyai komponen perencanaan untuk konferensi, petunjuk diskusi dan mengakhiri diskusi.



BAB III
PENUTUP
A.       Kesimpulan
Dari makalah yang kami buat, kami dapat menyimpulkan bahwa dalam keperawatan peran perawat sebagai pelajar dan pengajar itu sangat penting. Karena dari kedua peran tersebut  mempunyai tujuan yang berbeda, seperti yang kita ketahui bahwa peran perawat sebagai prelajar ialah program meliputi pendidikan akademik formal lanjutan, program pengembangan sumber daya manusia (human resource development, HRD) berbasis institusi. Sedangkan peran perawat sebagai pengajar ialah pendidikan kesehatan, bagaimana melakukan perawatan diri, petunjuk minum obat, termasuk efek samping dan bagaimana melakukan terapi yang diresepkan.

B.     Saran
Dari uraian makalah yang telah disajikan maka kami menginginkan teman-teman dari kelompok lain dapat memberikan komentar atau kritikan mengenai makalah yang kami buat sesuai dengan judul yang kami angkat.





















DAFTAR PUSTAKA