BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Anak sekolah menurut WHO yaitu golongan anak yang berusia antara 7 – 15 tahun. Anak sekolah merupakan golongan yang mempunyai karakteristik mulai mencoba mengembangkan kemandirian dan menentukan batasan-batasan norma. Disinilah variasi individu mulai lebih mudah dikenali seperti pertumbuhan dan perkembangannya, pola aktivitas, kebutuhan zat gizi, perkembangan kepribadian, serta asupan makanan (Yatim, 2005). Karakteristik lain anak usia ini adalah anak banyak menghabiskan waktu di luar rumah, aktivitas fisik anak semakin meningkat, dan pada usia ini anak akan mencari jati dirinya.
Pada saat ini kegiatan anak di luar rumah berkurang karena kebutuhan belajar dan kesibukan berinteraksi dengan teknologi. Fakta bahwa berkurangnya aktivitas di luar rumah dan berganti dengan aktivitas di dalam rumah yang membutuhkan penglihatan dalam jarak dekat (komputer, televisi, game dan HP) memicu terjadinya miopia pada anak sekolah. Anak-anak pada saat ini juga lebih suka bermain bola di playstation dibandingkan bermain bola di lapangan terbuka. Dan masa sekolah yang lebih dini dimana anak dipacu untuk bisa membaca dan menulis sejak awal, patut dicurigai sebagai penyebab kelainan refraksi pada sistem penglihatan.
Salah satu dari jalur informasi utama dari panca indera adalah mata. Adanya kelainan refraksi pada sistem penglihatan akan menurunkan sistem produktivitas dan menimbulkan keluhan seperti nyeri kepala, penglihatan kabur, dan lain-lain yang menghambat kelancaran aktivitas seharian. Kelainan refraksi ini merupakan kelainan pembiasan sinar pada mata sehingga pembiasan sinar tidak dapat difokuskan pada retina atau bintik kuning. Kelainan refraksi merupakan salah satu kelainan mata yang paling sering terjadi. Saat ini kelainan refraksi masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia. Berdasarkan data dari WHO pada 2004 prevalensi kelainan refraksi pada umur 5-15 tahun sebanyak 12,8 juta orang (0,97%). Di Indonesia prevalensi kelainan refraksi menempati urutan pertama pada penyakit mata. Kasus kelainan refraksi dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Jumlah pasien yang menderita kelainan refraksi di Indonesia hampir 25% dari populasi atau sekitar 55 juta jiwa. Kelainan refraksi terdiri dari miopia, hipermetropia, dan astigmatisma.
Miopia merupakan kelainan refraksi yang terbanyak dijumpai, baik pada murid SD (86%), SMP (95%), maupun SMA (86%) (Saerang et al., 1983). Lazimnya miopia terjadi karena memanjangnya sumbu bola mata, pemanjangan sumbu ini menyebabkan bekas cahaya yang dibiaskan tidak mencapai retina sehingga terfokus di depan retina. Sejalan dengan memanjangnya sumbu bola mata, derajat miopiapun akan bertambah. Miopia sudah menjadi keresahan sejumlah ahli mata dunia terutama ahli mata anak karena mereka mendapatkan fakta bahwa kasus myopia mengalami peningkatan luar biasa setiap tahunnya. Kenaikan ini diduga karena berubahnya kebiasaan melihat akibat kemajuan teknologi. Begitu banyak hal yang dapat diungkap namun pada dasarnya perlu adanya kewaspadaan bagi para orangtua dan guru serta praktisi dalam mengantisipasi dilema ini. Lingkungan, pola hidup, pola makan, dan terutama bagi yang nerusia sekolah dan kuliah harus lebih berancang-ancang memaknai perilaku mereka.
Penelitian dilakukan oleh Profesor Young pada tahun 1968 pada sekelompok orang eskimo yang hidup di kutub utara. Dari 130 orang tua, 128 di antaranya memiliki penglihatan jarak jauh yang sempurna, 1 orang memiliki 0,25 dioptri dan satu orang yang menjadi petugas pencatat kejadian memiliki 1,50 dioptri. Anak-anak mereka yang memulai belajar membaca tulis 60 % lebih memiliki miopia yang tampak nyata. Jelas Faktor genetika menjadi mentah dengan adanya kejadian ini. Studi statistik juga dilakukan oleh pemerintah Amerika yang mendata bahwa pada tahun 1950 pemerintah AS menemukan kasus Miopia di AS mencapai 15 %. Menurut laporan sebelumnya sejak tahun 1920, level ini cukup konstan. Pada tahun 1980, persentasi kasus miopia melonjak menjadi 40 %.
Suatu hasil penelitian menyatakan 1 dari 10 (9,2%) anak-anak usia 5 -17 tahun di Amerika dilaporkan menderita miopia (Kleinstein et al., 2003). Hasil penelitian lainnya menunjukan prevalensi miopia pada anak usia 6-18 tahun sebesar 20,2% (Scheiman et al.,1996). Di Indonesia sendiri prevalensi miopia cukup besar. Di RS. Sardjito Yogyakarta selama setengah tahun (Januari sampai dengan juni 1983) dipelajari kasus-kasus kelainan refraksi. Dari 725 penderita kelainan refraksi, 83% adalah miopia (Budihardjo dan Agni,1984).
Dari penelitian tim Helen Keller International (sebuah LSM yang intensif dalam program-program kesehatan mata) mencoba melakukan penelitian pada tahun 2009 dengan responden berasal dari sebuah sekolah dasar di bilangan menteng atas. Jumlah responden 334 orang mencakup kelas 1 sampai dengan kelas 6, dimana 13 diantaranya pernah menggunakan kacamata/lensa kontak dan memeriksakan matanya baik ke optikal maupun ke dokter mata dengan hasil menderita kelainan miopi.
Dan dari hasil laporan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan (RISKESDAS) tahun 2013 menyebutkan prevalensi pada penderita yang memakai kacamata/ lensa kontak berdasarkan umur 6-14 tahun sebesar 1,0% dan umur 15-24 tahun sebesar 2,9%. Masih dari data RISKESDAS tersebut menyebutkan prevalensi penderita yang memakai kacamata/lensa kontak semakin meningkat pada tingkat pendidikan, dimana anak yang tidak sekolah sebanyak 2,3%, anak yang tamat SD sebanyak 3,6%, yang tamat SMP sebanyak 4,0%, dan yang tamat SMA sebanyak 7,0%. Jika ditinjau dari segi tempat tinggal lebih tinggi penderita yang tinggal di perkotaan dibandingkan pedesaan serta dengan kuintil indeks kepemilikan yang tinggi (RISKESDAS, 2013)
Dari hasil laporan Kementrian Kesehatan (KEMENKES) tahun 2010 menyebutkan penderita dengan gangguan refraksi mata dan akomodasi di Indonesia dengan jumlah penderita laki-laki sebanyak 42.349 orang, perempuan sebanyak 69.164, dan yang termasuk kasus baru sebanyak 111.513. Masih dari data KEMENKES tersebut menyebutkan penderita dengan tingkat kesulitan melihat pada umur diatas 10 tahun di Sulawesi Tengah, dimana penderita yang sedikit sulit melihat sebanyak 4,22% dan yang parah sebanyak 0,34%.
Dan dari laporan Yankes Dinkes kota Palu tahun 2010 menyebutkan berdasarkan hasil laporan dari 6 Rumah Sakit di Kota Palu (RSU Undata, RSU Anutapura, RSU Woodward, RS Budi Agung, RS Wirabuana, dan RS Madani) untuk pola penyakit gangguan refraksi mata dan akomodasi rawat jalan menempati urutan ke 5 dengan persentase 8,57%.
B. Pertanyaan-pertanyaan Penelitian
1. Apakah faktor yang mempengaruhi terjadinya kelainan refraksi mata miopi pada anak sekolah?
2. Apakah perkembangan teknologi mempengaruhi terjadinya kelainan refraksi mata miopi pada anak sekolah?
3. Apakah faktor genetika mempengaruhi terjadinya kelainan refraksi mata miopi pada anak sekolah?
4. Apakah pengetahuan orang tua mempengaruhi terjadinya kelainan refraksi mata miopi pada anak sekolah?
C. Rumusan Masalah
Apakah faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya kelainan refraksi mata miopi pada anak sekolah di . . . tahun 2015?
Judul
Faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya kelainan refraksi mata miopi pada anak sekolah di . . . tahun 2015
D. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya kelainan refraksi mata miopi pada anak sekolah di . . .
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengidentifikasi faktor yang berhubungan dengan terjadinya kelainan refraksi mata miopi pada anak sekolah.
b. Untuk mengidentifikasi hubungan antara perkembangan teknologi dengan terjadinya kelainan refraksi mata miopi pada anak sekolah.
c. Untuk mengidentifikasi hubungan antara faktor genetik dengan terjadinya kelainan refraksi mata miopi pada anak sekolah.
d. Untuk mengidentifikasi hubungan antara tingkat pengetahuan orang tua dengan terjadinya kelainan refraksi mata miopi pada anak sekolah.
E. Manfaat Penelitian
1. Manfaat bagi tempat penelitian
Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi anak sekolah di Palu terkait faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya kelainan refraksi mata miopi pada anak sekolah dan dapat mencegahnya.
2. Manfaat bagi ilmu keperawatan
Melalui penelitian ini diharapkan dapat menambah memperkaya keilmuan dalam keperawatan tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya kelainan refraksi mata miopi pada anak sekolah.
3. Manfaat bagi peneliti selanjutnya
Penelitian ini dapat dipergunakan sebagai bahan dalam melanjutkan penelitian terkait dengan faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya kelainan refraksi mata miopi pada anak sekolah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Anak Usia Sekolah
1. Pengertian Anak Usia Sekolah
Anak usia sekolah adalah anak yang memiliki umur 6 sampai 12 tahun yang masih duduk di sekolahdasar dari kelas 1 sampai kelas 6 dan perkembangan sesuai usianya. Anak usia sekolah adalah anakdenga usia 7 sampai 15 tahun (termasuk anak cacat) yang menjadi sasaran program wajib belajar pendidikan 9 tahun.(www.gn-ota,or.id).
2. Tahap perkembangan anak usia sekolah
a. Aspek fisik
Kecerdasan perkembangan secara pesat,berpikir makin logis dan kritis fantasis semakin kuat sehinggasering kali terjadi konflik sendiri, penuh dengan cita-cita
b. Aspek sosial
Mengejar tugas-tugas sekolah bermotivasi untuk belajar, namun masih memiliki kecenderungan untuk kurang berhati-hati.
c. Aspek kognitif
Anak bermain dalam kelompok dengan aturan kelompok (kerja sama). Anak termotivasi dan mengerti hal-hal sistematik
3. Peran Dan Fungsi Keluarga Bagi Anak Usia Sekolah
Tugas perkembangan dalam anak usia sekolah menurut Duval dam Miller Carter dan Mc Goldrik dalam Friedman (1980) :
a. Mensosialisasikan anak-anak termasuk meningkatkan prestasi sekolah dan mengembangkanhubungan dengan teman sebaya yang sehat .
b. Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan
c. Memenuhi kebutuhan fisik anggota keluarga
B. Konsep Mata
Kornea merupakan jendela paling depan dari mata dimana sinar masuk dan difokuskan ke dalam pupil. Bentuk kornea yang cembung dengan sifatnya yang transparan merupakan hal yang sangat menguntungkan karena sinar yang masuk 80% atau kekuatan 40 dioptri dilakukan atau dibiaskan oleh kornea ini. Kornea memiliki indek bias 1,38. Kelengkungan kornea mempunyai kekuatan yang sebagai lensa hingga 40,0 dioptri.
Lensa yang jernih mengambil peranan membiaskan sinar 20% atau 10 dioptri. Peranan lensa yang terbesar adalah pada saat melihat dekat atau berakomodasi. Lensa ini menjadi kaku dengan bertambahnya umur sehingga akan terlihat sebagai presbiopia. Lensa mata memiliki sifat seperti : indeks bias 1,44, dapat berubah bentuk, mengatur difokuskannya sinar dan apabila badan siliar melakukan kontraksi atau relaksasi maka lensa akan cembung ataupun pipih seperti yang terjadi pada akomodasi (Ilyas, 2006).
Mata anak-anak adalah mata yang sedang bertumbuh. Sistem imunitas anak yang sedang berkembang dan sistem saraf pusat yang juga berada pembentukan mengakibatkan rentanya mata anak terhadap gangguan yang bisa mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan abnormal. Pertumbuhan dan perkembangan mata berlangsung cepat dalam dua tahun pertama kehidupan. Kemudian berkembang secara berlahan sampai usia pubertas (Riordan and Eva, 2009).
C. Konsep Kelainan Refraksi
1. Definisi Kelainan Refraksi
Kelainan refraksi adalah keadaan dimana bayangan tegas tidak dibentuk pada retina tetapi di bagian depan atau belakang bintik kuning dan tidak terletak pada satu titik yang tajam. Kelainan refraksi dikenal dalam bentuk miopia, hipermetropia dan astigmatisma (Ilyas, 2006).
Keseimbangan dalam pembiasan sebagian besar ditentukan oleh dataran depan dan kelengkungan kornea serta panjangnya bola mata. Kornea mempunyai daya pembiasan sinar terkuat dibanding media penglihatan mata lainnya. Lensa memegang peranan terutama pada saat melakukan akomodasi atau bila melihat benda yang dekat. Panjang bola mata seseorang berbeda-beda. Bila terdapat kelainan pembiasan sinar oleh kornea (mendatar, mencembung) atau adanya perubahan panjang (lebih panjang, lebih pendek) bola mata, maka sinar normal tidak dapat terfokus pada makula. Keadaan ini disebut sebagai ametropia (Ilyas,2006).
2. Etiologi
Ametropia aksial adalah ametropia yang terjadi akibat sumbu optik bola mata lebih panjang atau lebih pendek sehingga bayangan benda difokuskan di depan atau di belakang retina. Pada miopia aksial, fokus akan terletak di depan retina karena bola mata lebih panjang. Sedangkan pada hipermetropia aksial, fokus bayangan terletak di belakang retina. Ametropia indeks refraktif adalah ametropia akibat kelainan indeks refraksi media penglih hatan. Sehingga walaupun panjang sumbu mata normal, sinar terfokus di depan (miopia) atau di belakang retina (hipermetropia). Kelainan indeks refraksi ini dapat terletak pada kornea atau pada lensa (cembung, diabetik). Ametropia kurvatur disebabkan kelengkungan kornea atau lensa yang tidak normal sehingga terjadi perubahan pembiasan sinar. Kecembungan kornea yang lebih berat akan mengakibatkan pembiasan lebih kuat sehingga bayangan dalam mata difokuskan di depan bintik kuning sehingga mata ini akan menjadi mata miopia atau rabun jauh. Sedangkan kecembungan kornea yang lebih kurang atau merata (flat) akan mengakibatkan pembiasan menjadi lemah sehingga bayangan dalam mata difokuskan dibelakang bintik kuning dan mata ini menjadi hipermetropia atau rabun dekat (Ilyas, 2006).
3. Tanda dan Gejala
Sakit kepala terutama didaerah tengkuk atau dahi, mata berair, cepat mengantuk, pegal pada bola mata, penglihatan kabur (Ilyas, 2006), mengerutkan dahi secara berlebihan, sering menyipitkan mata, sering menggosok (mengucek) mata, mengantuk, mudah teriritasi pada penggunaan mata yang lama, dan penglihatan ganda (Rudolph, 2007).
D. Konsep Miopi
1. Definisi Miopi
Miopia adalah suatu kelainan refraksi karena kemampuan refraktif mata terlalu kuat untuk panjang anteroposterior mata sehingga sinar datang sejajar sumbu mata tanpa akomodasi difokuskan di depan retina (Istiqomah, 2005). Miopia adalah suatu keadaan mata yang mempunyai kekuatan pembiasan sinar yang berlebihan sehingga sinar yang datang dibiaskan di depan retina atau bintik kuning (Nasrulbintang, 2008).
Miopia disebut sebaga rabun jauh akibat berkurangnya kemampuan untuk melihat jauh akan tetapi dapat melihat dekat dengan lebih baik. Secara fisiologis sinar yang difokuskan pada retina terlalu kuat sehingga membentuk bayangan kabur atau tidak jelas pada makula lutea (Ilyas, 2006). Miopia tidak sering pada bayi dan anak prasekolah. Lebih lazim lagi pada bayi prematur dan pada bayi dengan retinopati prematuritas. Juga, ada kecenderungan herediter terhadap miopia, dan anak dengan orangtua miopia harus diperiksakan pada usia awal. Insiden miopia meningkat selama bertahun-tahun sekolah, terutama sebelum pada usia sepuluhan. Tingkat miopia semakin tua juga cenderung meningkat selama tahun-tahun pertumbuhan (Nelson, 2000).
2. Etiologi
Kekurangan zat kimia (kekurangan kalsium, kekurangan vitamin), alergi, penyakit mata tertentu (bentuk kornea kerucut, bisul di kelopak mata, pasca operasi atau pasca trauma atau kecelakaan), herediter atau faktor genetik (perkembangan yang menyimpang dari normal yang di dapat secara kongenital pada waktu awal kelahiran), kerja dekat yang berlebihan seperti membaca terlalu dekat atau aktifitas jarak dekat (Israr, 2010), kurangnya faktor atau aktifitas jarak jauh terutama sport atau aktifitas di luar rumah, pencahayaan yang ekstra kuat dan lama (computer, TV, game), sumbuatau bola mata yang terlalu panjang karena adanya tekanan dari otot ekstra okuler selama konvergensi yang berlebihan, radang, pelunakan lapisan bola mata bersama-sama dengan peningkatan tekanan yang di hasilkan oleh pembuluh darah dan bentuk dari lingkaran wajah yang lebar yang menyebabkan konvergensi yang berlebihan (Nasrulbintang, 2008).
3. Gejala klinik
Penglihatan kabur untuk melihat jauh dan hanya jelas pada jarak yang dekat, selalu ingin melihat dengan mendekatkan benda yang dilihat, kadang-kadang terlihat bakat untuk menjadi juling bila ia melihat jauh, mengecilkan kelopak untuk mendapatkan efek ”pinhole” sehingga dapat melihat jelas, penderita miopia biasanya menyenangi membaca (Ilyas, 2006), cepat lelah, pusing dan mengantuk, melihat benda kecil harus dari jarak dekat, pupil medriasis, dan bilik mata depan lebih dalam, retina tipis (Istiqomah, 2005). Banyak menggosok mata, mempunyai kesulitan dalam membaca, memegang buku dekat ke mata, pusing, sakit kepala dan mual (Wong, 2008).
4. Pengobatan
Koreksi mata dengan miopia dengan memakai lensa minus/negatif yang sesuai untuk mengurangi kekuatan daya pembiasan di dalam mata. Biasanya pengobatan dengan kaca mata dan lensa kontak. Miopia juga dapat diatasi dengan pembedahan pada kornea antara lain keratotomi radial, keratektomi fotorefraktif (Ilyas, 2006)
E. Konsep perkembangan Teknologi
Teknologi adalah penggunaan yang efesien dari ilmu, keterampilan dan bahan untuk memproduksi suatu benda yang lebih berkwalitas. Dalam teknologi penggunaan pikiran dan tangan merupakan alat yang efektif untuk menciptakan suatu barang, dengan kerja sama ini manusia yanglemah dan tidak mampu bertahan hidup akan mampu membuat perrtahanan yang lebih baik lagi.
Kata komunikasi atau communication dalam bahasa Inggris berasal dari kata Latin communis yang berarti sama, communico, communication, atau communicare yang berarti membuat sama. Istilah communis adalah istilah yang paling sering disebut sebagai asal-usul kata komunikasi, yang merupakan akardari kata-kata Latin lainnya yang mirip. Pengertian komunikasi secara umum adalah suatu proses penyampaian pesan dari komunikator (pembicara) kepada komunikan (pendengar) melalui suatu channel (saluran) serta menghasilkan feedback (umpan balik). Komunikasi diartikan secara luas sebagai suatu proses untuk berbagi pengalaman.
Jika diamati kemajuan teknologi secara keseluruhan maka teknologi itu sendiri terus berkembang terus dan terus. Mulai dari perkembangan teknologi budaya sampai teknologi komunikasi. Sekarang teknologi berkembang secara otomatis dan pesat, dari mulai yang kecil, medium sampai yang high tech.kemajuan teknologi sangat membantu manusia serta mempengaruhi kehidupan individu, sosial dam kebudayaan. Teknologi bukan hanya menjagkau benda yang bersifat materil tetapi juga benda yang non materil seperti: ide, gagasan, cita-cita dan norma dst. Dalam lingkup benda non materil peranan benda-benda instrumen sangat penting seperti isyarat dan simbol, bahasa merupakan suatu sistem dari simbolnya.
Beberapa orang beranggapan bahwa kemajuan teknologi yang pada saat ini mempunyai dampak yang negatif bagi kehidupan manusia itu sendiri. Seperti terjadinya kerusakan alam hutan yang terjadi karena teknologi pemotongan hutan menggunakan alat berat. Kondisi yang seperti inilah yang menyebabkan orang menganggap kemajuan teknologi memiliki dampak negatif.
Di sisi lain juga, banyak orang yang menganggap teknologi mempunyai peran besar dalam peningkatan kualitas hidup manusia di dunia ini. Untuk itulah teknologi harus tetap diupayakan untuk terus berkembang. Tetapi, secara umum teknologi memang harus terus dikembangkan sebagai upaya untuk terus mencari inovasi sebagai perbaikan kehidupan manusia. Oleh karena itu, tujuan dari teknologi yaitu untuk meningkatkan kualitas kehidupan manusia tanpa merusak lingkungan alam sekitar kita.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan ada beberapa manfaat yang dapat disimpulkan, diantaranya adalah :
1. Membantu manusia untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan mereka secara lebih baik dan lebih efisien.
2. Memotivasi manusia untuk terus berpikir untuk menciptakan perubahan-perubahan dan perbaikan dalam menciptakan teknologi baru.
3. Membantu manusia mengenal sejarah dan memprediksi mengenai fenomena yang akan terjadi di masa mendatang. Seperti memprediksi terjadinya gerhana bulan dan matahari, memprediksi peristiwa yang terjadi di tatasurya atau juga memprediksi bencana alam.
F. Konsep Genetik
Pengertian genetika berasal dari Bahasa Latin genos yang berarti suku bangsa atau asal usul. Dengan demikian genetika berarti ilmu yang mempelajari bagaimana sifat keturunan (hereditas) yang di wariskan kepada anak cucu, serta variasi yang mungkin timbul di dalamnya.
Menurut sumber lainnya, pengertian genetika berasal dari Bahasa Yunani geno yang berarti melahirkan. Dengan demikian pengertian genetika adalah ilmu yang mempelajari berbagai aspek yang menyangkut pewarisan sifat dan variasi sifat pada organisme maupun suborganisme (seperti virus dan prion).
Berdasarkan pengertian genetika, genetika manusia (Human Genetiks) perlu dipelajari dengan tujuan:
1. Agar kita dapat mengetahui sifat – sifat keturunan kita sendiri, serta setiap mahkluk yang hidup di lingkungan kita.
2. Mengetahui kelainan atau penyakit keturunan serta usaha untuk menanggulanginya.
3. Menjajagi sifat keturunan seseorang, misalnya golongan darah, yang kemungkinan diperlukan dalam penelitian warisan harta dan kriminalitas.
Prinsip dari pengertian genetika perlu dikuasai untuk mempelajari sifat kejiwaan atau persarafan seseorang yang ditentukan oleh sifat keturunan, misalnya kelebihan satu jenis kromosom yang ada hubungannya dengan kelainan jiwa, bersifat asosial dan kriminil.
G. Konsep Dasar Pengetahuan
1. Pengertian
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (Overt Behavior). Pengetahuan dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan
Pengetahuan (knowledge) adalah hal-hal yang kita ketahui tentang kebenaran yang ada di sekitar kita tanpa harus menguji kebenarannya, didapat melalui pengamatan yang lebih mendalam (Wasis, 2008 : 1)
2. Tingkat Pengetahuan
Menurut Effendy Secara garis besarnya dibagi dalam 6 tingkat pengetahuan, yaitu :
a. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai pengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dan seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, “tahu” ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.
b. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
c. Aplikasi (Aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).
d. Analisis (Analisys)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
e. Sintesis (Syntesis)
Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada.
f. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian ini didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
3. Cara Memperoleh Pengetahuan
Menurut Wawan cara memperoleh pengetahuan dapat dilakukan dengan cara berikut :
a. Cara Kuno atau Cara Non Ilmiah
1) Cara Coba-salah (Trial and Error)
Cara ini telah dipakai orang sebelum kebudayaan, bahkan mungkin sebelum adanya peradaban. Cara coba salah ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah dan apabila kemungkinan itu tidak berhasil maka dicoha. Kemungkinan yang lain sampai masalah tersebut dapat dipecahkan
2) Cara kekuasaan atau otoritas
Sumber pengetahuan cara ini dapat berupa pemimpin-pimpinan masyarakat baik formal atau informal, ahli agama, pemegang pemerintah, dan berbagai prinsip orang lain yang menerima mempunyai yang dikemukakan oleh orang yang mempunyai otoritas, tanpa menguji terlebih dahulu atau membuktikan kebenarannya baik berdasarkan fakta empiris maupun penalaran sendiri.
3) Berdasarkan Pengalaman Pribadi
Upaya untuk memperoleh pengetahuan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang pernah diperoleh dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi pada masa lalu.
4) Melalui Jalan Pemikiran
Merupakan cara melahirkan pemikiran secara tidak langsung melalui pernyataan-pernyataan yang dikemukakan kemudian dicari hubungan sehingga dapat dibuat suatu kesimpulan.
b. Cara modern dalam memperoleh pengetahuan
Cara ini disebut metode penelitian ilmiah atau lebih popular atau disebut metodologi penelitian. Cara ini mula-mula dikembangkan oleh Francis Bacon (1561- 1626), kemudian dikembangkan oleh Deobold Van Daven. Akhirnya lahir suatu cara untuk melakukan penelitian yang dewasa ini kita kenal dengan penelitian ilmiah.
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Menurut Wawan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan antara lain :
a. Faktor internal
1) Pendidikan
Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju kearah cita-cita tertentu yang menentukan manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupan untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Pendidikan diperlukan untuk mendapat informasi misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Menurut YB Mantra pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk juga perilaku seseorang akan pola hidup terutama dalam memotivasi untuk sikap berperan serta dalam pembangunan. Pada umumnya makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi.
2) Pekerjaan
Menurut Thomas pekerjaan adalah keburukan yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarga. Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan, tetapi lebih banyak merupakan cara mencari nafkah yang membosankan, berulang dan banyak tantangan. Sedangkan bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu. Bekerja bagi ibu-ibu akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga.
3) Umur
Menurut Elisabeth BR, usia adalah umur individu yang terhitung mulai saat dilahirkan sampai berulang tahun. Sedangkan menurut Huclok, semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dan segi kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewasa dipercaya dan orang yang belum tinggi kedewasaannya. Hal ini akan sebagai dan pengalaman dan kematangan jiwa.
b. Faktor eksternal
1) Faktor Lingkungan
Menurut Ann.Mariner lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada disekitar manusia dan pengaruhnya yang dapat mempengaruhi perkembangan dan perilaku orang atau kelompok.
2) Sosial Budaya
Sistem sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat mempengaruhi dan sikap dalam menerima informasi.
BAB III
KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS, DEFINISI OPERASIONAL
A. KERANGKA KONSEP
PERKEMBANGAN
TEKNOLOGI
PENGETAHUAN KELAINAN MATA MIOPI
FAKTOR
GENETIK
PENGETAHUAN
KELAINAN MATA MIOPI
FAKTOR
GENETIK
FAKTOR
GENETIK
B. HIPOTESIS
1. HIPOTESA (H0)
a. Tidak ada hubungan antara genetik dengan kelainan refraksi mata miopi.
b. Tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan kelainan refraksi mata miopi.
2. HIPOTESA ( H1/Ha )
a. Ada hubungan antara genetik dengan kelainan refraksi mata miopi.
b. Ada hubungan antara pengetahuan dengan kelainan refraksi mata miopi.
C. DEFINISI OPERASIONAL
Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional berdasarkan karakteristik yang diamati, sehingga memungkinkan peneliti untuk melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena (Alimul Hidayat,2007).
1. Pengetahuan
a. Definisi
Pengetahuan (knowledge) adalah hal-hal yang kita ketahui tentang kebenaran yang ada di sekitar kita tanpa harus menguji kebenarannya, didapat melalui pengamatan yang lebih mendalam
b. Cara Ukur : Wawancara
c. Alat Ukur : kuisioner
d. Skala Ukur : Skala Guttman
e. Hasil Ukur : Baik (jika memahami tentang penyakit mata miopi)
Buruk (jika tidak memahami tentang penyakit mata miopi)
2. Faktor Genetik
a. Defenisi
Merupakan faktor bawaan dari lahir yang di wariskan atau di turunkan dari orang tua yang memiliki riwayat penyakit kepada anaknya
b. Cara ukur : Wawancara
c. Alat ukur : kuisioner
d. Skala ukur : skala Guttman
e. Hasil ukur : Ya (jika menderita penyakit yang sama dengan orang tua)
Tidak ( jika tidak menderita penyakit yang sama dengan orang tua )
BAB IV
METODE PENELITIAN
A. DESAIN PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik yaitu penelitian yang dimaksudkan untuk mengangkat fakta dan keadaan variabel, yang terjadi selama penelitian berlangsung dan menyajikan apa adanya (Wasis, 2008). Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi faktor yang berhubungan dengan terjadinya kelainan refraksi mata miopi.
B. WAKTU DAN TEMPAT
a. Waktu
Penelitian dimulai pada bulan Maret – Juni 2015
b. Tempat
Tempat penelitian yaitu di . . .
C. POPULASI DAN SAMPEL
a. Populasi
Populasi didefinisikan sebagai seperangkat unit analisis yang lengkap (keseluruhan) yang sedang diteliti (Machfoedz, 2009). Populasi dalam penelitian ini adalah para anak sekolah yang menderita miopi di . . sejumlah 30 orang.
b. Sampel
Sampel merupakan sub (sebagian) dari seperangkat elemen (populasi) yang dipilih untuk dipelajari. Teknik pemilihan sampel disebut sampling. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel kuota dimana seluruh populasi dengan kriteria tertentu diambil sebagai sampel penelitian sampai jumlah (kuota) yang diinginkan tercapai berdasarkan pertimbangan tertentu (Machfoedz, 2009).
D. PENGUMPULAN DATA
a. Data primer
Data primer adalah kumpulan fakta yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti pada saat berlangsungnya suatu penelitian (Nursalam, 2008).
b. Data sekunder
Data sekunder adalah data yang diambil oleh peneliti dari hasil pengumpulan data oleh pihak lain (Nursalam, 2008).
E. PENGOLAHAN DATA
1. Pengolahan data.
Data yang dikumpulkan selanjutnya diolah dalam beberapa tahap yaitu:
a. Editing (pengeditan data)
Editing meliputi apakah isian pada lembar quesioner sudah cukup baik dan dapat di proses lebih lanjut editing dapat dilakukan di tempat pengumpulan data di lapangan sehingga jika kesalahan maka upaya pembetulan dapat segera dilakukan.
b. Coding (Pengkodean).
Coding adalah mengklasifikasikan jawaban-jawaban dari para responden kedalam kategori-kategori, yaitu dengan cara memberi tanda atau kode berbentuk angka atau masing-masing jawaban.
c. Tabulasi.
Setelah dilakukan koding data maka dilakukan tabulasi data dari skor jawaban yang diperoleh dengan menggunakan tabel untuk pengkajian hasil pengolahan data guna menyusun uraian – uraian yang dilengkapi dengan penjelasan serta penyajian data dalam bentuk tabel yang kemudian diolah oleh komputer.
d. Cleaning
Membersihkan data dengan melihat vareabel-vareabel yang digunakan, apakah data-data sudah benar atau belu,
e. Analisa
Melakukan analisa data penelitian menggunakan ilmu statistik terapan yang disesuaikan dengan tujuan yang hendak di analisa. (Narbuko, 2007)
F. ANALISIS DATA
1. Analisa Univariat
Adalah metode statistik yang digunakan oleh peneliti menghasilkan distribusi dan persentase dari tiap variabel dengan rumus
Keterangan :
P : Jumlah persentase yang di cari
f : Jumlah frekuensi untuk setiap alternatif jawaban
n : Jumlah responden ( Sabarguna, 2008)
G. PENYAJIAN DATA
Teknik penyajian data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tekstual yang berupa tulisan atau narasi. (saryono, 2008)
DAFTAR PUSTAKA
KEMENKES 2010
DEPKES PALU 2010
RISKESDAS 2013
Ilyas S. 2006.Kelainan refraksi dan kacamata. 2nd ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 1-14, 35-48
Hartono. (2007). Ilmu Kesehatan Mata. Yogyakarta: Gama Press.
Aziz.A.Alimul Hidayat.2002.Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah.Surabaya
Wasis, 2008.Pedoman Riset Praktis Untuk Profesi Perawat .Jakarta: EGC
American Optometric Association.(2000). Care of the Patient with Miopia, http://www.aoa.org. diakses tanggal 27 Januari 2015.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar