Kamis, 09 Januari 2014

SYNDROM BURGER

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang 
Penyakit Buerger (Tromboangitis Obliterans) merupakan penyakit oklusi pembuluh darah perifer yang lebih sering terjadi di Asia dibandingkan di Negara-negara barat. Penyakit ini merupakan penyakit idiopatik, kemungkinan merupakan kelainan pembuluh darah karena autoimmune, panangitis yang hasil akhirnya menyebabkan stenosis dan oklusi pada pembuluh darah.
Laporan pertama kasus Tromboangitis Obliterans telah dijelaskan di Jerman oleh von Winiwarter pada tahun 1879 dalam artikel yang berjudul “A strange form of endarteritis and endophlebitis with gangrene of the feet”. Kurang lebih sekitar seperempat abad kemudian, di Brookline New York, Leo Buerger mempublikasikan penjelasan yang lebih lengkap tentang penyakit ini dimana ia lebih memfokuskan pada gambaran klinis dari Tromboangitis Obliterans sebagai “presenile spontaneous gangrene”.
Hampir 100% kasus Tromboangitis Obliterans (kadang disebut Tromboarteritis Obliterans) atau penyakit Winiwarter Buerger menyerang perokok pada usia dewasa muda. Penyakit ini banyak terdapat di Korea, Jepang, Indonesia, India dan Negara lain di Asia Selatan, Asia tenggara dan Asia Timur. Prevalensi penyakit Buerger di Amerika Serikat telah menurun selama separuh dekade terakhir, hal ini tentunya disebabkan menurunnya jumlah perokok, dan juga dikarenakan kriteria diagnosis yang lebih baik. Pada tahun 1947, prevalensi penyakit ini di Amerika serikat sebanyak 104 kasus dari 100 ribu populasi manusia. Data terbaru, prevalensi pada penyakit ini diperkirakan mencapai 12,6 – 20% kasus per 100.000 populasi.
Kematian yang diakibatkan oleh Penyakit Buerger masih jarang, tetapi pada pasien penyakit ini yang terus merokok, 43% dari penderita harus melakukan satu atau lebih amputasi pada 6-7 tahun kemudian. Data terbaru, pada bulan Desember tahun 2004 yang dikeluarkan oleh CDC publication, sebanyak 2002 kematian dilaporkan di Amerika Serikat berdasarkan penyebab kematian, bulan, ras dan jenis kelamin (International Classification of Diseases, Tenth Revision, 1992), telah dilaporkan total dari 9 kematian berhubungkan dengan Tromboangitis Obliterans, dengan perbandingan laki-laki dan perempuan adalah 2:1 dan etnis putih dan hitam adalah 8:1.


B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah yang dimaksud dengan sindrom buerger?
2.      Apa yang menjadi penyebab terjadinya sindrom buerger?
3.      Bagaimana proses terjadinya?
4.      Apa saja tanda dan gejalanya?
5.      Bagaimana cara untuk menanganinya?
6.      Bagaimana konsep keperawatan dari sindrom buerger?

C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian sindrom buerger.
2.      Untuk mengetahui penyebab terjadinya sindrom buerger.
3.      Untuk mengetahui proses terjadinya sindrom buerger.
4.      Untuk mengetahui tanda dan gejala sindrom buerger.
5.      Untuk mengetahui cara menangani sindrom buerger.
6.      Untuk mengetahui konsep keperawatan dari sindrom buerger.



BAB II
PEMBAHASAN

A.     Pengertian
Penyakit buerger adalah penyakit pembuluh darah yang bersifat segmental pada anggota gerak dan jarang pada alat-alat dalam, berupa peradangan, proliferasi dan non supurasi serta terjadi penyumbatan oleh thrombus pada segmen yang terkena terutama mengenai pembuluh darah kecil sampai sedang.
Penyakit Buerger (Tromboangitis Obliterans) adalah penyakit yang ditandai dengan berulangnya inflamasi pada arteri dan vena sedang dan kecil pada ekstremitas bawah dan atas (jarang terjadi) dan mengakibatkan pembentukan thrombus serta penyumbatan pembuluh darah. (Brunner & Suddarth ; 890.2002).
Penyakit Buerger merupakan radang pada pembuluh darah arteri, vena dan saraf pada anggota gerak tubuh yang menimbulkan sumbatan pada arteri, vena dan saraf yang berukuran kecil atau sedang, kaki merupakan anggota tubuh yang paling sering terkena penyakit ini.
Penyakit Buerger merupakan suatu peradangan pada pembuluh darah arteri dan vena serta saraf pada tungkai yang menyebabkan gangguan aliran darah. Jika tidak diobati dapat menyebabkan gangren pada daerah yang dipengaruhinya. Penyakit Buerger dikenal juga sebagai tromboangitis obliteran.
Jadi Syndrome Buerger adalah penyakit yang terjadi dikarenakan penyumbatan pada arteri dan vena baik berukuran kecil sampai sedang yang biasa di alami pria perokok sigaret berusia 20-40 tahun daan umumnya menyerang ekstremitas bagian bawah dan kaki merupakan anggota tubuh yang paling sering terkena.

B.     Etiologi
1.      Belum diketahui secara pasti
2.      Hipersensitif terhadap protein tembakau
3.      Merokok merupakan factor penyebab atau factor yang memperberat
4.      Faktor genetik, ras, hormon, iklim, trauma dan infeksi merupakan faktor predisposisi.

Dari hasil berbagai penelitian yang dilakukan sebagai upaya mencari etiologi penyakit  Buerger, dapat disimpulkan adanya 4 faktor yang mungkin turut mendasari timbulnya penyakit Buerger, yaitu:
1.      Konsumsi tembakau
Konsumsi tembakau yang berkelanjutan, terutama dalam bentuk rokok, merupakan faktor resiko utama bagi kelanjutan, perkembangan, dan kekambuhan penyakit ini. Akan timbul kekambuhan bila penderita mengulangi kebiasaan merokok dan dalam jangka panjang akan terlihat penyembuhan lesi iskemik bila kebiasaan merokok dihentikan. Kotinin yang merupakan metabolit utama nikotin kebanyakan diekskresikan melalui urin dengan waktu paruh 20-30 jam. Disimpulkan bahwa keluhan dan lesi akibat iskemia tidak pernah berulang secara bermakna pada penderita penyakit Buerger dengan kadar kotinin yang rendah.
2.      Kaitan imunogenik
Pada penderita penyakit Buerger dijumpai peningkatan sensitivitas seluler terhadap kolagen tipe I dan III. Kolagen tipe I dan III merupakan unsur pokok pembangunan dinding arteri. Penderita penyakit Buerger menunjukkan adanya peningkatan titer antibodi terhadap sel antiendotel (aantiendothelial cell antibody) secara bermakna.
3.      Penurunan kemampuan vasodilatasi endotelium-dependen
Kemampuan vasodilatasi endotelium-dependen pada jaringan pembuluh perifer penderita penyakit Buerger sangat menurun.
4.      Hiperhomosisteinemia.
Hiperhomosis-teinemia telah diterima secara luas sebagai salah satu faktor risiko penting yang mengawali terjadinya penyakit aterosklerosis oklusif dan deep-vein trhombosis (DVT). Ada beberapa mekanisme patofisiologis yang mengaitkan hiperhomosisteinemia dengan penyakit Buerger. Studi in-vitro menunjukkan bahwa homosistein dapat membatasi bioavailibilitas nitric oxide, menurunkan kemampuan vasodilatasi endotelium-dependen, merangsang proliferasi sel-sel otot polos, dan mengubah elastisitet dinding pembuluh darah.

C.     Manifestasi Klinis
1.      Nyeri pada anggota tubuh (tangan dan atau kaki)
2.      Pelebaran pembuluh darah balik (Vena) serta berwarna agak kemerahan
3.      Berkurangnya suplai darah arteri
4.      Kekakuan pada anggota badan
5.      Rasa kesemutan dan panas pada tangan/ kaki
6.      Ada luka menggaung pada jari-jari , terutama ibu jari
7.      Perubahan warna pada tangan dan kaki yang terkena
8.      Denyut nadi dirasakan melemah pada tangan/ kaki yang terkena
9.      Ujung tangan berubah warnanya apabila terkena dingin, mula-mula pucat agak kebiruan dan lama kelamaan menjadi kemerahan disertai rasa nyeri.
10.  Mengenai dua atau lebih anggota tubuh.

Gejala-gejala tersebut akan lebih terasa pada temperature dingin (lingkungan yang dingin) dan meningkat bila terjadi stress atau peningkatan secara emosional dan proses yang sudah lanjut gejala dapat berupa luka berbentuk ulkus (cekungan pada kulit) atau gangren (luka membusuk) pada anggota tubuh yang terkena penyakit ini.

D.     Patofisiologi
Syndrome Buerger disebabkan karena faktor merokok yang dapat menimbulkan peningkatan asam pada penyakit buerger. Sehingga Imun meningkat dan tubuh mengalami hipersensitivitas yang menyebabkan kepekaan seluler serta meningkatkan enzim dan serum anti endotenial. Karena meningkatnya enzim dan serum anti endotenial menyebabkan vaskuler melemah sehingga terjadilah peningkatan HLA-A9, HLA-A54, dan HLA-B5, dan akan mengakibatkan disfungsi vaskuler yang menimbulkan peradangan pada arteri dan vena sehingga terbentuklah gangren dan akhirnya akan di amputasi.

E.     Pemeriksaan Diagnostik
1.      Ultrasonografi Doppler menunjukkan penurunan sirkulasi di pembuluh perifer
2.      Pletismografi menunjukka lokasi lesi dan menyingkirkan aterosklerosis.
3.      Biopsi pembuluh yang diserang bisa memastikan diagnosis.

F.      Komplikasi
1.      Gangren
Gangren adalah kematian bagian jaringan tubuh. Gangren biasanya disebabkan oleh suplai darah tidak adekuat, tetapi kadang kala disebabkan oleh cedera langsung (gangren traumatik) atau infeksi (gas gangren – lihat di bawah). Suplai darah yang buruk dapat disebabkan oleh: 
a.       Penekanan pada pembuluh darah (misalnya, turniket, balutan yang terlalu ketat, dan pembengkakan ekstremitas); 
b.      Obstruksi di dalam pembuluh darah yang sehat (misalnya, emboli arteri, kerusakan jaringan akibat suhu rendah, jika kapiler menjadi tersumbat);
c.       Spasme dinding pembuluh darah (misalnya toksisitas ergot); 
d.      Trombosis yang disebabkan oleh penyakit dinding pembuluh darah (misalnya, arteriosklerosis pada arteri, flebitis pada vena). 

Gangren kering terjadi jika aliran darah dari area yang terkena menjadi hitam dan emasiasi. Gangren lembap terjadi jika aliran vena tidak adekuat sehingga jaringan mengalami pembengkakan akibat cairan
2.      Ulkus
Ulkus adalah luka terbuka pada permukaan kulit atau selaput lendir dan Ulkus adalah ke-matian jaringan yang luas dan disertai invasif kuman saprofit. Adanya kuman saprofit tersebut menyebabkan ulkus berbau, ulkus diabetikum juga merupakan salah satu gejala klinik dan perjalanan penyakit DM dengan neuropati perifer.
3.      Kemerahan
4.      Sianosis
Diskolorasi kebiruan pada kulit dan membran mukosa akibat konsentrasi yang berlebihan hemoglobin tereduksi dalam darah yang lebih dari 5 g%. (Kamus Kedokteran Dorland).





G.     KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1.      Pengkajian
a.       Aktifitas / Istirahat
1)     Gejala
Tindakan yang mengeluarkan duduk / berdiri lama. Imobilisasi lama (contoh trauma ortopedik, tirah baring / perawatan di rumah sakit lama, komplikasi kehamilan) : paralisis / kondisi kecacatan berlanjut. Nyeri karena aktivitas / berdiri lama. Lemah / kelemahan pada kaki yang sakit.
2)     Tanda
Kelemahan umum atau ekstrimitas
b.      Sirkulasi
1)     Gejala
 Riwayat trombosis vena sebelumnya ada varises. Adanya faktor pencetus lain contoh hipertensi (karena kehamilan) diabetes melitus, IM / penyakit katup jantung, cedera serebrovas kuler trombotik.
2)     Tanda
Takikardi. Penurunan nadi perifer pada ekstermitas yang sakit (TVD) varises dan pengerasan, gelembung / ikatan vena (trombus) warna kulit / suhu ekstremitas yang sakit (betis/paha) : pucat, dingin, edema (TVD) : merah muda kemerahan, hangat sepanjang vena (superfisial).Tanda hormon positif (bila tak ada tidak berarti TVD)
c.       Makanan / Cairan
1)     Tanda
Turgor kulit buruk, membran mukosa kering (dehidrasi pencetus  untuk hiperkoagulasi). Kegemukan (pencetus untuk statis dan tahanan vena pelvis). Edema pada kaki yang sakit (tergantung pada lokasi trombus)
d.      Nyeri / Keamanan
·         Nyeri
1)     Gejala
Berdenyut, nyeri tekanan, makin nyeri bila berdiri / bergerak (ekstremitas yang sakit).
2)     Tanda
Melindungi ekstremitas yang sakit


·         Keamanan
1)     Gejala
Riwayat cedera langsung / tak langsung pada ekstrimitas / vena (contoh trauma mayor / fraktur, bedah ortopedik / pelvis, kelainan dengan tekanan kepala bayi lama pada vena pelvik, terapi itravena). Adanya keganasan (khususnya pankreas, paru, sistem G1).
2)     Tanda      :  Demam, menggigil.

2.      Diagnosa Keperawatan
a.       Nyeri berhubungan dengan vasopasme/gangguan perfusi jaringan yang sakit,iskemik/kerusakan jaringan.
b.      Gangguan perkusi jaringan perifer berhubungan dengan penghentian aliran darah arteri.
c.       Kurang pengetahuan, kebutuhan belajar mengenai kondisi, kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang pengetahuan / tidak mengenal sumber informasi, salah persepsi / salah mengerti.
d.      Ansietas berhubungan dengan prosedur tindakan yang akan dilakukan.

3.      Intervensi
a.       Diagnosa I : Nyeri berhubungan dengan gangguan perfusi jaringan yang sakit, iskemik / kerusakan jaringan.
Tujuan : Nyeri berkurang dan kerusakan jaringan tidak melebar.
Intervensi
Rasional
1.      Catat karakteristik nyeri dan parestesia, periksa tanda-tanda vital pasien
1.      Mengetahui tingkatan nyeri.
2.      Bantu pasien mengidentifikasikan faktor pencetus atau situasi contoh
merokok, terpajan pada dingin dan penanganannya.
2.      Agar pasien memahami tentang faktor yang mempengaruhi nyeri tersebut.
3.      Dorong penggunaan teknik menajemen strees, aktivitas hiburan.
3.      Digunakan untuk mengalihkan perhatian klien.
4.      Rendam area yang sakit pada air hangat.
4.      Air hangat akan membuat pembuluh darah melebar dan itu akan melancarkan aliran darah.
5.      Berikan ruangan hangat, bebas aliran udara,contoh:ventilasi,pendingin ruangan,pertahankan pintu tertutup sesuai indikasi.
5.      Menghindarkan infeksi dan menjaga udara tetap panas.
6.      Kolaborasi : berikan obat sesuai indikasi, siapkan intervensi bedah bila diperlukan.
6.      Pemberian obat untuk mengurangi rasa nyeri pada pasien.


b.      Diagnosa II : Gangguan perkusi jaringan perifer berhubungan dengan penghentian aliran darah arteri.
Tujuan :
Ø  Menunjukkan keseimbangan cairan ditandai dengan hidrasi kulit, edema perifer tidak ada, tekanan darah dalam rentang yang diharapkan, nadi perifer teraba.
Ø   Menunjukkan perfusi jaringan:perifer ditandai dengan fungsi otot utuh, warna normal, tidak ada nyeri ekstremitas yang terlokalisasi
Intervensi
Rasional
1.      Observasi warna kulit bagian yang sakit.
1.      Mengidentifikasikan tingkat keparahan pada penghentian aliran darah arteri.
2.      Catat penurunan nadi.
2.      Mengetahui tingkat,rasa dan bentuk dari rasa nyeri.
3.      Lihat dan kaji kulit untuk ulserasi, lesi, area ganggren.
3.      Melihat berapa lebar bagian yang mengalami ganggren.
4.      Dorong nutrisi dan vitamin yang tepat.
4.      Nutrisi yang tepat dan kebutuhan vitamin yang lengkap akan meningkat sistem imun tubuh.
5.      Kolaborasi : berikan obat sesuai indikasi ( vasodilator), ambil contoh drainase  lesi untuk kultur atau sensitivitas     o    Untuk melihat sianosis atau terjadi kemerahan pada kulit.
5.      Pemberian obat vasodilator membuat pembuluh darah arteri melebar dan melancarkan aliran darah.

c.       Diagnosa III : Kurang pengetahuan, kebutuhan belajar mengenai kondisi, kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang pengetahuan / tidak mengenal sumber informasi, salah persepsi / salah mengerti.
Tujuan : Memberi pemahaman tentang proses penyakit.
Intervensi
Rasional
1.      Berikan informasi pada pasien tentang penyakitnya.
1.      Meningkatkan pengetahuan pasien tentang penyakitnya.
2.      Dorong menghindari pemajanan pada dingin.
2.      Suhu panas membuat pembuluh darah mempertahankan keadaan dilatasi
3.      Pertahankan lingkungan pada suhu tubuh normal, hilangkan aliran dingin.
3.      Suhu yang dingin membuat kontriksi pada pembuluh darah dan akan memperberat penyumbatan aliran darah.
4.      Tekankan pentingnya menghentikan rokok, berikan informasi pada klinik lokal / kelompok pendukung.
4.      Agar pasien mengerti dan memahami bahwa rokok merupakan faktor utama terjadinya trombongitis.
5.      Bantu pasien untuk membuat metode menghindari atau mengubah stress,diskusikan teknik relaksasi.
5.      Teknik diktrasi dan relaksasi membuta pasien lebih tenang menyikapi keadaannya.
6.      Tekankan pentingnya melihat tiap hari dan melakukan perawatan kulit yang benar.
6.      Menghindari terjadinya cidera atau luka pada kulit.
d.      Diagnosa IV : Ansietas berhubungan dengan prosedur tindakan yang akan dilakukan.
Tujuan : Memberikan pemahaman tentang tindakan yang akan dilakukan.
Intervensi
Rasional
1.      Jelaskan prosedur dan pentingnya tindakan yang akan dilakukan.
1.      Meningkatkan pengetahuan pasien dan agar pasien memahami tentang tindakan yang akan dilakukan.
2.      Observasi tanda-tanda vital.
2.      Mengetahui keadaan umum klien.
3.      Dampingi pasien selama prosedur tindakan dilakukan.
3.      Meningkatkan keamanan dan mengurangi rasa takut pasien.
4.      Yakinkan pasien bahwa tindakan yang akan dilakukan adalah tindakan yang terbaik.
4.      Mengurangi tingkat ansietas pada klien.
5.      Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat penenang.
5.      Untuk memberikan ketenangan dan mengurangi tingkat kecemasannya.











BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Berdasarkan data di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa penyakit sindrom buerger merupakan penyakit oklusi kronis pembuluh darah arteri dan vena yang berukuran kecil dan sedang,terutama mengenai pembuluh darah perifer ekstremitas inferior dan superior. Penyakit Tromboangitis Obliterans merupakan kelainan yang mengawali terjadinya obstruksi pada pembuluh darah tangan dan kaki. Pembuluh darah mengalami konstriksi atau obstruksi sebagian yang dikarenakan oleh inflamasi dan bekuan sehingga mengurangi aliran darah ke jaringan. Penderita penyakit ini umumnya perokok berat yang kebanyakan mulai merokok pada usia muda, kadang pada usia sekolah. Penghentian kebiasaan merokok memberikan perbaikan pada penyakit ini.

B.     Saran
Sebagai seorang mahasiswa terutama dalam bidang kesehatan, sebaiknya kita menghindari yang namanya merokok.Karena merokok ini dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya penyakit sindrom buerger yang akan berakibat fatal bagi kita,utamanya juga untuk yang perokok berat. Selain itu sebaiknya kita memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk mengetahui kebiasaan-kebiasaan buruk mereka yang dapat menjadi faktor pemicu terjadinya penyakit ini.



DAFTAR PUSTAKA

Baughman,Diane C.2000.Keperawatan Medikal-Bedah.Jakarta:EGC.

Doengoes Marilyn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan dan Pedoman Untuk perencanaan dan Pendokumentasian perawatan pasien. Edisi 3. Jakarta:EGC.
Judith M.Wilkinson.2006.Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC.Jakarta:EGC.
Jennifer P.Kowalak,William Welsh, Brenna Mayer.2001.Buku Ajar Patofisiologi.Jakarta:EGC.
Sjamsuhidajat.R, Wim de Jong, Buku Ajar Ilmu bedah, Edisi 2, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2005.
Tim Penerjemah EGC. 1996. Kamus Kedokteran Dorland. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
http://texbuk.blogspot.com/2011/06/asuhan-keperawatan-klien-dengan-buerger.html#ixzz26MVsml30
http://yosuapenta.multiply.com/journal/item/8/SindromBuerger?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

Tidak ada komentar:

Posting Komentar