BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Demam
tifoid menjadi masalah kesehatan, yang umumnya terjadi di negara
yang sedang berkembang karena akibat kemiskinan, kriminalitas dan kekurangan
air bersih yang dapat diminum. Diagnose dari pelubangan penyakit
tipus dapat sangat berbahaya apabila terjadi selama kehamilan atau pada periode
setelah melahirkan. Kebanyakan penyebaran penyakit demam tifoid ini
tertular pada manusia pada daerah – daerah berkembang, ini dikarenakan
pelayanan kesehatan yang belum baik, hygiene personal yang buruk. Salah satu
contoh yaitu di Negara Nigeria, dimana terdapat 467 kasus dari tahun 1996
sampai dengan 2000.
Demam
tifoid merupakan masalah global terutama di negara dengan higiene buruk.
Etiologi utama di Indonesia adalah Salmonella enterika subspesies enterika
serovar Typhi (S.Typhi) dan Salmonella enterika subspesies enterika serovar
Paratyphi A (S. Paratyphi A). CDC Indonesia melaporkan prevalensi demam tifoid
mencapai 358-810/100.000 populasi pada tahun 2007 dengan 64% penyakit ditemukan
pada usia 3-19 tahun, dan angka mortalitas bervariasiantara 3,1 – 10,4 % pada
pasien rawat inap.
Di Indonesia,
demam tifoid masih tetap merupakan masalah kesehatan masyarakat, berbagai upaya
yang dilakukan untuk memberantas penyakit ini tampaknya belum memuaskan. Di
seluruh dunia WHO memperkirakan pada tahun 2000 terdapat lebih dari 21,65 juta
penderita demam tifoid dan lebih dari 216 ribu diantaranya meninggal. Di
Indonesia selama tahun 2006, demam tifoid dan demam paratifoid merupakan
penyebab morbiditas peringkat 3 setelah diare dan Demam Berdarah Dengue.
Kejadian
demam tifoid meningkat terutama pada musim hujan.Usia penderita di Indonesia
(daerah endemis) antara 3-19 tahun (prevalensi 91% kasus). Dari presentase
tersebut, jelas bahwa anak-anak sangat rentan untuk mengalami demam tifoid.
Demam tifoid sebenarnya dapat menyerang semua golongan umur, tetapi biasanya
menyerang anak usia lebih dari 5 tahun. Itulah sebabnya demam tifoid merupakan
salah satu penyakit yang memerlukan perhatian khusus. Penularan penyakit ini
biasanya dihubungkan dengan faktor kebiasaan makan, kebiasaan jajan, kebersihan
lingkungan, keadaan fisik anak, daya tahan tubuh dan derajat kekebalan anak.
Perlu
penanganan yang tepat dan komprehensif agar dapat memberikan pelayanan yang
tepat terhadap pasien. Tidak hanya dengan pemberian antibiotika, namun perlu
juga asuhan keperawatan yang baik dan benar serta pengaturan diet yang tepat
agar dapat mempercepat proses penyembuhan pasien dengan demam tifoid.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa
pengertian demam tifoid?
2. Apa
saja penyebab demam tifoid?
3. Bagaimana
gejala dan tanda demam tifoid?
4. Bagaimana
patogenesis demam tifoid?
5. Bagaimana
maanifestasi klinis dari demam tifoid?
6. Komplikasi
apa saja yang terjadi pada penderita demam tifoid?
7. Bagaimana
diagnosis yang dilakukan untuk penderita demam tifoid?
8. Bagaimana
penanganan atau pencegahan demam tifoid?
9. Bagaimana pengobatan demam tifoid?
C. Tujuan
Penulisan
1. Untuk
mengetahui pengertian demam tifoid
2. Untuk
mengetahui apa saja penyebab dari demam tifoid
3. Untuk
mengetahui gejaladan tanda yang terjadi pada demam tifoid
4. Untuk
mengetahui patogenesis demam tifoid
5. Untuk
mengetahui manifestasi klinis dari demam tifoid
6. Untuk
mengetahui komplikasi yang disebabkan oleh demam tifoid
7. Untuk
mengetahuipemeriksaan apa saja yang baik untuk penderita demam tifoid
8. Untuk
mengetahui pencegahan atau penanganan demam tifoid
9. Untuk
mengetahui cara pengobatan yang dapat dilakukan pada penderita demam tifoid
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi
Tifoid
adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella Thypi.
Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh
faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella. ( Bruner and
Sudart, 1994 ).
Tifoid
adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella
thypi dan salmonella para thypi A,B,C. sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid
dan paratyphoid abdominalis. (Syaifullah Noer, 1996).
Tifoid
adalah suatu penyakit pada usus yang menimbulkan gejala-gejala sistemik yang
disebabkan oleh salmonella typhosa, salmonella type A.B.C. penularan terjadi
secara pecal, oral melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi (Mansoer
Orief.M. 1999).
Demam
tifoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran cerna dengan
gejala demam lebih dari tujuh hari, gangguan pada saluran cerna dan gangguan
kesadaran.(Mansjoer, 2000: 432).
Demam
tifoid adalah penyakit menular yang bersifat akut, yang ditandai
denganbakteremia, perubahan pada sistem retikuloendotelial yang bersifat difus,
pembentukanmikroabses dan ulserasi nodus peyer di distal ileum. Disebabkan
salmonella thypi, ditandaiadanya demam 7 hari atau lebih, gejala saluran
pencernaan dan gangguan kesadaran.(Soegijanto, 2002: 1).
Demam
tifoid adalah penyakit infeksi bakteri hebat yang di awali di selaput lendir
usus,dan jika tidak di obati secara progresif akan menyerbu jaringan di seluruh
tubuh.(Tambayong, 2000: 143).
B. Etiologi
Salmonellae adalah
organisme aerobik, tidak berbentuk spora, dan memiliki flagel
basil. Salmonellatyphi, yang bertindak sebagai agen penyakit demam tifoid
adalah satu anggota dari genus salmonella yang mana masuk dalam kingdom
Enterobacteriaceae dari bakteri gram negatif. Anggota dari genus ini mempunyai
satu keanekaragaman pengaruh pathogenic. Sel dari Salmonella typhi membentuk
panjang 2-3 μm dan berdiameter 0.4 - 0.6
μm.
Salmonella dapat beradaptasi
pada media yang rendah Mg2+, pada lingkungan yang memiliki
pH rendah. Salmonella berevolusi saat menjangkiti bermacam-macam binatang
melata, burung dan binatang mamalia dan menghasilkan pada beberapa sindrom yang
berbeda, dari penyakit akut, hingga penyakit fatal. Salmonella juga sangat
cepat berkembang pada daerah pertanian, karena menjadi salahsatu media
yang besar atas penyebaran salmonella. Makanan yang
banyak menjadi medianya yaitu keju, rempah-rempah, sayuran, buah segar dan
akan menyebar saat di ekspor.
Kuman salmonela masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau
minuman yang tercemar, baik pada waktu memasak atau pun melalui tangan dan alat
masak yang kurang bersih. Bersama makanan itu, kuman salmonela akan diserap
oleh usus halus dan menyebar ke semua alat tubuh terutama hati dan limpa,
sehingga membengkak dan nyeri. Kuman ini akan meneruskan perjalannya masuk
peredaran darah dan masuk ke dalam kelenjar limfe, terutama di usus halus. Nah,
di dalam dinding usus ini Salmonela membuat luka atau bahasa medisnya tukak
berbentuk lonjong.
Tukak
tersebut suatu saat dapat menimbulkan perdarahan atau robekan sehingga terjadi
penyebaran infeksi ke dalam rongga perut. Kalau sudah parah maka perlu tindakan
operasi untuk mengobatinya. Tak jarang hal ini dapat menimbulkan kematian.
Selain itu, kuman salmonela yang masuk ke dalam tubuh juga mengeluarkan toksin
(racun) yang akan menimbulkan gejala demam pada penderita.
C. Patofisiologi
Penularan
salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5F
yaitu Food(makanan), Fingers(jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly(lalat),
dan melalui Feses.
Feses
dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi
kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat,
dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan dikonsumsi oleh orang yang sehat.
Apabila orang tersebut kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci
tangan dan makanan yang tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang
yang sehat melalui mulut. Kemudian kuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman
akan dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian
distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman
berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-sel
retikuloendotelial. Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke
dalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk
limpa, usus halus dan kandung empedu.
Semula
disangka demam dan gejala toksemia pada typhoid disebabkan oleh endotoksemia.
Tetapi berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwa endotoksemia
bukan merupakan penyebab utama demam pada typhoid. Endotoksemia berperan pada
patogenesis typhoid, karena membantu proses inflamasi lokal pada usus halus.
Demam disebabkan karena salmonella thypi dan endotoksinnya merangsang sintetis
dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang.
D. Manifestasi Klinis
Penyakit ini bisa menyerang saat bakteri tersebut masuk
melalui makanan atau minuman, sehingga terjadi infeksi saluran pencernaan yaitu
usus halus. Kemudian mengikuti peredaran darah, bakteri ini mencapai hati dan
limpa sehingga berkembang biak disana yang menyebabkan rasa nyeri saat diraba.
Gejala klinis demam tifoid pada anak dapat bervariasi dari yang ringan hingga
yang berat. Biasanya gejala pada orang dewasa akan lebih ringan dibanding pada
anak-anak. Kuman yang masuk ke dalam tubuh anak, tidak segera menimbulkan
gejala. Biasanya memerlukan masa tunas sekitar 7-14 hari. Masa tunas ini lebih
cepat bila kuman tersebut masuk melalui makanan, dibanding melalui minuman.
Manifestasi
klinis demam tifoid pada anak seringkali tidak khas dan sangat bervariasi yang
sesuai dengan patogenesis demam tifoid. Spektrum klinis demam tifoid tidak khas
dan sangat lebar, dari asimtomatik atau yang ringan berupa panas disertai diare
yang mudah disembuhkan sampai dengan bentuk klinis yang berat baik berupa
gejala sistemik panas tinggi, gejala septik yang lain, ensefalopati atau timbul
komplikasi gastrointestinal berupa perforasi usus atau perdarahan. Hal ini
mempersulit penegakan diagnosis berdasarkan gambaran klinisnya saja
Gejala klinik demam tifoid pada anak biasanya memberikan
gambaran klinis yang ringan bahkan dapat tanpa gejala (asimtomatik). Secara
garis besar, tanda dan gejala yang ditimbulkan antara lain :
1. Demam lebih
dari seminggu. Siang hari biasanya terlihat segar namun menjelang malamnya
demam tinggi.
2. Lidah
kotor. Bagian tengah berwarna putih dan pinggirnya merah. Biasanya anak akan
merasa lidahnya pahit dan cenderung ingin makan yang asam-asam atau pedas.
3. Mual
Berat sampai muntah. Bakteri Salmonella typhi berkembang biak di hatidan limpa,
Akibatnya terjadi pembengkakan dan akhirnya menekan lambung sehingga terjadi
rasa mual. Dikarenakan mual yang berlebihan, akhirnya makanan tak bisa masuk
secara sempurna dan biasanya keluar lagi lewat mulut.
4. Diare
atau Mencret. Sifat bakteri yang menyerang saluran cerna menyebabkan gangguan
penyerapan cairan yang akhirnya terjadi diare, namun dalam beberapa kasus
justru terjadi konstipasi (sulit buang air besar).
5. Lemas,
pusing, dan sakit perut. Demam yang tinggi menimbulkan rasa lemas, pusing.
Terjadinya pembengkakan hati dan limpa menimbulkan rasa sakit di perut.
Pingsan, Tak
sadarkan diri. Penderita umumnya lebih merasakan nyaman dengan berbaring tanpa
banyak pergerakan, namun dengan kondisi yang parah seringkali terjadi gangguan
kesadaran.
E. Komplikasi
Sebagian
besar penderita mengalami penyembuhan sempurna, tetapi bisa terjadi komplikasi,
terutama pada penderita yang tidak diobati atau bila pengobatannya terlambat :
·
Banyak penderita yang mengalami
perdarahan usus; sekitar 2% mengalami perdarahan hebat. Biasanya
perdarahan terjadi pada minggu ketiga.
·
Perforasi usus terjadi pada 1-2%
penderita dan menyebabkan nyeri perut yang hebat karena isi usus menginfeksi
ronga perut (peritonitis).
·
Pneumonia bisa terjadi pada minggu
kedua atau ketiga dan biasanya terjadi akibat infeksi pneumokokus (meskipun
bakteri tifoid juga bisa menyebabkan pneumonia).
·
Infeksi kandung kemih dan hati.
·
Infeksi darah (bakteremia) kadang
menyebabkan terjadinya infeksi tulang (osteomielitis), infeksi katup jantung
(endokarditis), infeksi selaput otak (meningitis), infeksi ginjal
(glomerulitis) atau infeksi saluran kemih-kelamin.
1)
Komplikasi intestinal
1.
Perdarahan usus
2.
Perporasi usus
3.
Ilius paralitik
2)
Komplikasi extra intestinal
1.
Komplikasi kardiovaskuler :
kegagalan sirkulasi (renjatan sepsis), miokarditis, trombosis,
tromboplebitis.
2. Komplikasi
darah : anemia hemolitik, trobositopenia, dan syndroma uremia hemolitik.
3. Komplikasi
paru : pneumonia, empiema, dan pleuritis.
4. Komplikasi
pada hepar dan kandung empedu : hepatitis, kolesistitis.
5. Komplikasi
ginjal : glomerulus nefritis, pyelonepritis dan perinepritis.
6. Komplikasi
pada tulang : osteomyolitis, osteoporosis, spondilitis dan arthritis.
7. Komplikasi
neuropsikiatrik : delirium, meningiusmus, meningitis, polineuritis perifer,
sindroma Guillain bare dan sidroma katatonia.
F.
Penatalaksanaan
·
Perawatan
1)
Klien diistirahatkan 7 hari sampai
demam tulang atau 14 hari untuk mencegah komplikasi perdarahan usus.
2)
Mobilisasi bertahap bila tidak ada
panas, sesuai dengan pulihnya tranfusi bila ada komplikasi perdarahan.
·
Diet
1)
Diet yang sesuai ,cukup kalori dan
tinggi protein.
2)
Pada penderita yang akut dapat
diberi bubur saring.
3)
Setelah bebas demam diberi bubur
kasar selama 2 hari lalu nasi tim.
4)
Dilanjutkan dengan nasi biasa
setelah penderita bebas dari demam selama 7 hari.
·
Obat-obatan
1)
Klorampenikol
2)
Tiampenikol
3)
Kotrimoxazol
4)
Amoxilin dan ampicillin
G.
Pencegahan
Pencegahan
adalah segala upaya yang dilakukan agar setiap anggota masyarakat tidak
tertular oleh bakteri Salmonella. Pencegahan dilakukan secara umum dan
khusus/imunisasi. Demam tifoid dapat dicegah dengan kebersihan pribadi dan
kebersihan lingkungan. Beberapa petunjuk untuk mencegah penyebaran demam tifoid
secara umum diantaranya:
1.
Cuci
tangan.
Cuci tangan dengan teratur meruapakan cara terbaik untuk mengendalikan demam tifoid atau penyakit infeksi lainnya. Cuci tangan anda dengan air (diutamakan air mengalir) dan sabun terutama sebelum makan atau mempersiapkan makanan atau setelah menggunakan toilet. Bawalah pembersih tangan berbasis alkohol jika tidak tersedia air.
Cuci tangan dengan teratur meruapakan cara terbaik untuk mengendalikan demam tifoid atau penyakit infeksi lainnya. Cuci tangan anda dengan air (diutamakan air mengalir) dan sabun terutama sebelum makan atau mempersiapkan makanan atau setelah menggunakan toilet. Bawalah pembersih tangan berbasis alkohol jika tidak tersedia air.
2.
Hindari minum
air yang tidak dimasak.
Air minum yang terkontaminasi merupakan masalah pada daerah endemik tifoid. Untuk itu, minumlah air dalam botol atau kaleng. Seka seluruh bagian luar botol atau kaleng sebelum anda membukanya. Minum tanpa menambahkan es di dalamnya. Gunakan air minum kemasan untuk menyikat gigi dan usahakan tidak menelan air di pancuran kamar mandi.
Air minum yang terkontaminasi merupakan masalah pada daerah endemik tifoid. Untuk itu, minumlah air dalam botol atau kaleng. Seka seluruh bagian luar botol atau kaleng sebelum anda membukanya. Minum tanpa menambahkan es di dalamnya. Gunakan air minum kemasan untuk menyikat gigi dan usahakan tidak menelan air di pancuran kamar mandi.
3.
Tidak perlu
menghindari buah dan sayuran mentah.
Buah dan sayuran mentah mengandung vitamin C yang lebih banyak daripada yang telah dimasak, namun untuk menyantapnya, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut. Untuk menghindari makanan mentah yang tercemar, cucilah buah dan sayuran tersebut dengan air yang mengalir. Perhatikan apakah buah dan sayuran tersebut masih segar atau tidak. Buah dan sayuran mentah yang tidak segar sebaiknya tidak disajikan. Apabila tidak mungkin mendapatkan air untuk mencuci, pilihlah buah yang dapat dikupas.
Buah dan sayuran mentah mengandung vitamin C yang lebih banyak daripada yang telah dimasak, namun untuk menyantapnya, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut. Untuk menghindari makanan mentah yang tercemar, cucilah buah dan sayuran tersebut dengan air yang mengalir. Perhatikan apakah buah dan sayuran tersebut masih segar atau tidak. Buah dan sayuran mentah yang tidak segar sebaiknya tidak disajikan. Apabila tidak mungkin mendapatkan air untuk mencuci, pilihlah buah yang dapat dikupas.
4.
Pilih makanan
yang masih panas.
Hindari makanan yang telah disimpan lama dan disajikan
pada suhu ruang. Yang terbaik adalah makanan yang masih panas. Walaupun tidak
ada jaminan makanan yang disajikan di restoran itu aman, hindari membeli
makanan dari penjual di jalanan yang lebih mungkin terkontaminasi.
H. Pengobatan
Tujuan dari perawatan dan pengobatan terhadap penderita
penyakit tifoid atau types adalah untuk menghentikan invasi kuman, mencegah
terjadinya komplikasi, memperpendek perjalanan penyakit, serta mencegah agar
tak kambuh lagi. Pengobatan yang dilakukan untuk penyakit tyfus ini dengan
jalan mengisolasi penderita dan melakukan desinfeksi pakaian, faeces dan urine untuk
mencegah penularan. Selama tiga hari pasien harus berbaring di tempat tidur
hingga panas turun, kemudian baru boleh duduk, berdiri dan berjalan.
Untuk mengurangi gejala yang timbul seperti demam dan rasa
pusing, Anda dapat memberikan obat paracetamol. Sedangkan pada anak yang
mengalami demam tifoid maka pilihan antibiotika yang baik adalah kloramfenikol
selama 10 hari. Sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk menentukan obat
yang baik untuk mengatasi demam tifoid. Selain dengan obat-obatan juga ada
cara tradisional untuk
menyembuhkan penyakit typus yaitu dengan menggunakan tanaman obat yang
bisa kita jumpai di lingkungan kita.
1)
Penyembuhan penyakit typus dengan
sambiloto (andrographis paniculata)
Fungsi
dari tanaman ini adalah untuk menurunkan panas atau demam, fungsi lain untuk
antiracun dan antibengkak. Cukup efektif untuk meningkatkan kekebalan tubuh,
serta mengatasi infeksi dan merangsang phagocytosis. Bagian dari tanaman ini
dapat diolah menjadi obat berbentuk kapsul. Untuk penggunaannya : 1 jam sebelum
makan 3 x 1 kapsul (pagi, siang, sore).
2)
Penyembuhan penyakit typus dengan
bidara upas (merremia mammosa)
Tanaman ini digunakan untuk
mengurangi rasa sakit (analgesic), menetralkan racun dan sebagai anti radang.
Olah bagian dari tanaman ini dalam bentuk kapsul. Pemakainnya sendiri : 3 x 1
kapsul/hari.
3)
Menyembuhkan penyakit Typus dengan
Rumput Mutiara
Tanaman ini sangat berguna untuk
menghilangkan rasa panas dan anti radang, selain itu juga sangat bermanfaat
untuk mengaktifkan peredaran darah. Olah juga bagian tanaman ini menjadi
kapsul. Cara pemakaiannya: 3 x 1 kapsul/hari.
4)
Menyembuhkan penyakit Typus dengan
Temulawak
Sifat dari tanaman ini adalah
bakteriostatik dan bermanfaat untuk meningkatkan kekebalan tubuh serta
antiflasma atau pembengkakan. Olah bagian tanaman ini dalam bentuk kapsul. Cara
pemakaiannya: 3 x 1 kapsul/hari.
Obat-obatan yang dipakai untuk penyakit demam tifoid adalah
:
a. Antibiotik
Demam tifoid disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella
typhi, sehingga memerlukan antibiotik. Antibiotik lini pertama adalah
chloramphenicol, amoxicillin, atau cotrimoxazole. Antibiotik lini kedua adalah
golongan fluoroquinolone (ofloxacin, ciprofloxacin) atau golongan
cephalosporine (ceftriaxone, cefixime, atau cefotaxime). Lama pemberian
antibiotik adalah 7-14 hari. Tirah baring selama demam sampai dengan 2
minggu normal kembali. Dengan antibiotik yang tepat, lebih dari 99% penderita
dapat disembuhkan. Antibiotik yang banyak digunakan adalah kloramfenikol
100mg/kg/hari dibagi dalam 4 dosis selama 10 hari. Dosis maksimal kloramfenikol
2g/hari. Kloramfenikol tidak bias diberikan bila jumlah leukosit < 2000 ul.
Bila pasien alergi, dapat diberikan golongan penisilin atau kotrimoksazol.
b. Penurun
panas
Penurun
panas yang sering diberikan adalah paracetamol.
c. Kortikosteroid
Kortikosteroid
dapat diberikan pada demam tifoid berat.
d. Diet lunak
rendah serat, dan makan makanan bergizi
Penderita penyakit demam Tifoid selama menjalani perawatan
haruslah mengikuti petunjuk diet yang dianjurkan oleh dokter untuk di konsumsi,
antara lain :
1)
Makanan yang cukup cairan, kalori,
vitamin & protein.
2)
Tidak mengandung banyak serat.
3)
Tidak merangsang dan tidak
menimbulkan banyak gas.
4)
Makanan lunak diberikan selama
istirahat.
Untuk
kembali ke makanan "normal", lakukan secara bertahap bersamaan dengan
mobilisasi. Misalnya hari pertama dan kedua makanan lunak, hari ke-3 makanan
biasa, dan seterusnya.
e. Pemberian
cairan yang cukup untuk mencegah dehidrasi
Kadang makanan diberikan melalui infus sampai penderita
dapat mencerna makanan. Jika terjadi perforasi usus, diberikan antibiotik
berspektrum luas (karena berbagai jenis bakteri akan masuk ke dalam rongga
perut) dan mungkin perlu dilakukan pembedahan untuk memperbaiki atau mengangkat
bagian usus yang mengalami perforasi.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Demam tifoid menjadi masalah kesehatan, yang umumnya terjadi
di negara yang sedang berkembangkarena akibat kemiskinan, kriminalitas dan
kekurangan air bersih yang dapat diminum. Demam tifoidmerupakan
penyakit yang penyebaran penyakitnya melalui media tertentu dari
distribusi global, gejalayang paling umum yaitu sakit kepala, sakit pada bagian
abdomen, diare dan demam tinggi.Salmonella typhi, bertindak sebagai agen
penyakit demam tifoid yang mana masuk dalam kingdomEnterobacteriaceae
daribakteri gram negatif. Sel dari Salmonella typhi membentuk panjang 2-3 μm dan berdiameter 0.4 - 0.6 μm.
B. Saran
Dari uraian makalah yang telah
disajikan maka kami dapat memberikan saran untuk selalu menjaga kebersih
lingkungan , makanan yang dikonsumsi harus higiene dan perlunya penyuluhan
kepada masyarakat tentang demam tifoid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar